Suarastra.com – Di tengah denyut modernisasi yang kian menguat di ibu kota, tradisi seolah tak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup, bernafas dalam ruang-ruang kebersamaan yang dijaga dengan penuh kesadaran. Itulah yang kembali tampak dalam perhelatan Lebaran Betawi 2026, sebuah tradisi tahunan pasca-Idulfitri yang tahun ini dipusatkan di Lapangan Banteng dan berlangsung selama tiga hari, sejak 10 hingga 12 April 2026.
Lebaran Betawi bukan sekadar perayaan seremonial. Ia hadir sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, mempertemukan nilai-nilai tradisi dengan realitas kota yang terus bergerak maju. Dalam ruang itu, masyarakat, tokoh adat, hingga pemerintah daerah berbaur dalam satu harmoni berbasis kearifan lokal menjadikannya sebagai ajang silaturahmi yang sarat makna.
Ketua Umum Badan Musyawarah Betawi, Riano P. Ahmad, menegaskan bahwa tema tahun ini, “Memperkokoh Persatuan Dalam Merawat Tradisi Menuju Jakarta Kota Global”, bukan sekadar slogan. Ia adalah arah, sekaligus pengingat bahwa identitas budaya harus tetap menjadi fondasi dalam setiap langkah pembangunan.
“Kita ingin identitas Betawi tetap menjadi fondasi kuat bagi Jakarta. Melalui Lebaran Betawi, kita menunjukkan bahwa kemajuan kota global tidak boleh meninggalkan akar budayanya,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Rangkaian acara pun dimulai dengan suasana yang khidmat. Pada Jumat (10/4/2026), doa bersama dan tausiah digelar sebagai refleksi spiritual usai bulan Ramadan menghadirkan ketenangan di tengah riuhnya kota. Memasuki hari kedua, Sabtu (11/4/2026), nuansa berubah menjadi lebih semarak. Ragam kesenian khas Betawi ditampilkan, mulai dari Gambang Kromong yang mengalun riang, Tari Sirih Kuning yang anggun, hingga atraksi Palang Pintu yang sarat nilai simbolik.
Tak hanya pertunjukan seni, pengunjung juga diajak menyelami kekayaan budaya melalui pameran rumah adat dari lima wilayah administratif Jakarta. Ornamen-ornamen khas yang ditampilkan bukan sekadar hiasan, melainkan jejak identitas yang diwariskan lintas generasi menjadi sarana edukasi yang memperkaya pemahaman masyarakat akan budaya Betawi.
Puncak acara digelar pada Minggu (12/4/2026) melalui prosesi Hantaran. Dalam prosesi ini, para wali kota dari lima wilayah Jakarta menyerahkan makanan khas kepada Penjabat Gubernur DKI Jakarta. Sebuah simbol sederhana, namun sarat makna tentang kebersamaan, penghormatan, dan kesinambungan tradisi.
Di antara hiruk-pikuk persiapan, kehadiran Fauzi Bowo turut memberi warna tersendiri. Ia menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai penjaga estafet budaya.
“Budaya Betawi itu terbuka dan egaliter. Melalui kegiatan seperti ini, kita berharap nilai-nilai sejarah Jakarta tetap hidup dan relevan bagi generasi muda,” tuturnya.
Dengan target sekitar 20.000 pengunjung, Lebaran Betawi 2026 tak hanya diharapkan menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjelma sebagai destinasi wisata berbasis sejarah. Sebuah ruang di mana tradisi tidak sekadar dikenang, melainkan dirayakan hidup, tumbuh, dan terus menyatu dalam wajah Jakarta yang kian mendunia.
(Caa/Mii)

