Suarastra.com – Jauh kala itu, deru hentakan sapi mengoyak sunyi di tepi arus Mahakam. Bukan satu, dua, atau sepuluh, melainkan ribuan yang berpadu hingga genap dua puluh ribu ekor. Gaungnya membangunkan bumi yang bisu, menggema ke segala penjuru.
Peristiwa itu terabadikan nyata, indah dan rapi dalam ukiran diatas batu, yang kini dikenal dengan sebutan Yupa. Satu per satu huruf pallawa terangkai dalam bahasa Sansekerta, seolah berkisah dengan lirih, seperti puisi dari masa yang jauh.
Dalam salah satu Yupa, tertulis kemurahan hati seorang raja:
“Sri Mulawarman sebagai raja mulia dan terkemuka, telah memberikan sedekah dua puluh ribu sapi kepada para Brahmana yang seperti api di tanah yang suci Waprakeswara…”
Kini, Yupa Muara Kaman, bersemayam tenang di Museum Nasional Jakarta, berdiri tegap sembari memeluk erat ingatan masa silam, yang mungkin akan terkikis oleh masa jika tak ada yang mengetahui makna di dalamnya.
Derma Dari Yang Terkemuka
Yajña, sebuah upacara korban atau persembahan dalam tradisi Weda. Yajña bukan sekadar ritual belaka, ia adalah mekanisme untuk menjaga tata keseimbangan antara alam, manusia, dan para dewa. Itulah yang dilakukan oleh Raja Mulawarman putra Asawawarman sekaligus cucu dari Kudungga, di abad ke lima Masehi silam.
Padang suci Waprakeswara menjadi saksi atas kelimpahan derma Mulawarman kepada kaum Brahmana. Tak hanya dua puluh ribu ekor sapi, ia pun menyertakan minyak (kental), obor, juga bunga malai.
Dalam tradisi Weda, sang raja berfungsi sebagai seseorang yang mempersembahkan mewakili seluruh rakyat terhadap para dewa. Status raja dari kerajaan yang ia pimpin, menujukkan supremasi politik atas kekuasaan yang ia miliki. Artinya, dengan melakukan persembahan sebesar itu, kelak akan digenggamnya pengakuan serta gelar raja tertinggi dari para Brahmana.
Dari dan Untuk Alam
Aliran Sungai Mahakam dan rimbunnya hutan di wilayah Kutai pada masa itu, menjadi nyala api dalam penghidupan masyarakat. Sementara bala ternak, hasil tanam padi, dan gemerlap kilau emas menjadi sebuah simbol akan kejayaan sebuah kerajaan. Kembali lagi, semua bertumpu pada hasil bumi.
Menengahi batas struktur sosial tersebut, berdirilah Brahmana, ia menduduki posisi mulia, terpandang dan bermartabat. Bertugaskan sebagai pelindung nilai-nilai suci.
Derma Sang Raja memang tertuju pada Brahmana, sebagai bentuk penghormatan kepada para penjaga Dharma. Persembahan ini, bukan sekadar memberi, melainkan sebagai bentuk memuliakan kepada yang telah memberi ajaran.
Dari dua puluh ribu sapi seolah memberi arti bahwa pemberian yang bersumber dari alam, akan tersalurkan kepada alam kembali. Sebuah bentuk kesempurnaan dan keselarasan antara kemakmuran duniawi dan kemurahan hati.
Menyibak Tafsir Angka Dua Puluh Ribu
Bukankah angka dua puluh ribu ekor sapi terbilang sangat fantastis jika dipersembahkan? Tak ayal, angka tersebut memicu banyak tanda tanya pun perdebatan. Bilangan tersebut sejatinya dapat dimaknai dalam dua arti, harfiah dan simbolik.
Susilo Wicaksono, seorang pegiat aksara pallawa menyatakan bahwa secara harfiah, arti dari Yupa Prasasti Muara Kaman I atau yang acap kali disebut sebagai Prasasti D.1 merupakan persembahan yang diperuntukkan kepada khalayak.
Dalam tradisi Hindu, aliran kesiwaan tidak memakan daging sapi, dan meski tak diketahui pasti apakah derma tersebut mengalirkan darah sapi, atau tidak, akan tetapi dari seekor sapi tersebut dapat dimanfaatkan untuk banyak hal lainnya. Pemberian yang demikian besarnya menyibak makna mendalam, kedermawanan yang mampu memberikan penghidupan.
“Dibalik aksara kuno, terdapat cerita besar yang menjadi cermin kebijaksanaan leluhur kita,” terangnya, Kamis (13/11/2025).
Sementara itu, Muhammad Sarip seorang pegiat sejarah Kalimantan Timur, menegaskan bahwa makna dari bilangan sapi tersebut sebagai bentuk glorifikasi guna menujukkan keagungan dan kekuasaan sang raja. Dalam tradisi masa lampau, angka besar kerap digunakan sebagai simbol keagungan dan legitimasi kepemimpinan.
“Angka yang genap dan jumlahnya sangat fantastik itu sifatnya glorifikasi untuk menunjukkan keagungan raja,” tuturnya ketika diwawancarai, pada Minggu (9/10/2025) melalui saluran telepon genggam.
Dari keduanya, dapat ditarik satu benang merah yang nyata. Bahwa, derma ini adalah ungkapan penghargaan yang mendalam atas ilmu yang disabdakan, dharma yang dijaga dan ajaran yang dikemukakan oleh para Brahmana.
Memuliakan Ilmu Lewat Derma yang Abadi
Dari yupa yang terukir, kisah kasih derma yang bertahan lebih dari seribu tahun itu, kian mengalir dari Mahakam kuno hingga kini. Sebagaimana yang telah diabadikan, pemberian dua puluh ribu ekor sapi kepada kaum brahmana bukan semata menujukkan kekayaannya, melainkan memperteguhkan posisi ilmu pengetahuan diatas segala campur aduk duniawi.
Dalam formasi masyarakat Hindu kuno, brahmana merupakan jembatan antara manusia dengan semesta, penjaga ilmu dan juga pembawa doa. Maka persembahan sang raja tidak pantas disebut sebagai ungkapan tunduk kepada manusia, melainkan sebuah bentuk penghormatan kepada kebijaksanaan. Sang Raja Mulawarman berhasil mencerminkan altruisme yang mampu melampaui kebutuhan politik. Tak sekadar berbagi hasil bumi, ia membangun tatanan etis di mana ilmu pengetahuan jauh lebih tinggi dibandingkan sebuah tahta.
Dalam derma itu, tersirat makna mendalam bahwa, kerajaan yang mampu berdiri kokoh ditopang oleh pasak yang kuat milik para cendekia. Oleh karenanya, yupa bukanlah prasasti yang menceritakan kekuasaan belaka, melainkan tentang kepemimpinan yang berjiwa kasih sayang dan menghargai mereka yang memiliki pengetahuan.
Puluhan ribu ekor sapi yang tertera dalam yupa. Tak hanya menjadi simbol kekayaan yang melimpah ruah, melainkan sebagai lambang pengorbanan harmoni sosial. Sang raja memahami betul, bahwa keseimbangan antara kesejahteraan sosial sama pentingnya dengan kemakmuran material. Lewat kacamata itu, altruisme bukan hanya sekadar memberi, melainkan menyalurkan berkah yang diyakini dapat memperkuat keseimbangan diatas segalanya.
Kini, yang tersisa tak hanya prasasti yang berbentuk batu dan aksara, maknanya justru menjelma dan semakin hidup, seolah mengingatkan bahwa dibalik kemegahan suatu monarki, selalu ada nilai kemanusiaan yang saat ini telah terwariskan sepanjang masa: bahwa kuasa yang tak diimbangi kebijaksanaan hanyalah bentuk dari kesombongan, dan ilmu tanpa ketulusan tak lebih dari kehampaan. Maka sejatinya, kedua hal tersebut berpadu di dalam yupa, menjadikan Mulawarman tak hanya dikenang sebagai raja besar, melainkan sosok yang memuliakan kaum cendekia, menjadikan ilmu dan kebijaksanaan sebagai pasak untuk menegakkan singgasana.
Dalam keheningan batu berusiakan ribuan tahun itu, gema derma Mulawarman semakin menggelegar. Ia seakan berpesan bahwa kebesaran bukanlah perkara tahta, melainkan seberapa besar hati mau berbagi. Di tepi Mahakam, nilai itu tak pernah sirna. Ia menjelma menjadi wujud yang paling sederhana dan terpatri dalam lubuk jiwa hingga kini. Semangat untuk mengedepankan pengetahuan, menjaga tatanan keseimbangan, dan menaruh rasa hormat pada kebijaksanaan. Mungkin bukan lagi puluhan ribu sapi, minyak atau bahkan bunga malai yang dapat kita persembahkan di hari ini, melainkan rasa hormat kepada ilmu yang telah diwariskan dengan tulus. Sebab, dari sanalah akar peradaban tumbuh, dan terus bertumbuh, bersinar terang di bawah cahaya Dharma yang tak pernah padam.
Pustaka :
- Faherty, Robert L.. “sacrifice”. Encyclopedia Britannica, 30 Jan. 2022, https://www.britannica.com/topic/sacrifice-religion.
- Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (Ed.). 2008. Sejarah Nasional Indonesia II Zaman Kuno (Awal M–1500 M). Edisi Pemutakhiran. Jakarta: Balai Pustaka.
- Sarip, Muhammad. 2016. Sejarah Sungai Mahakam di Samarinda dari Mitologi ke Barbarisme sampai Kemasyhuran. Samarinda: Komunitas Samarinda Bahari.
- Sarip, Muhammad. 2020. Kajian Etimologis Kerajaan (Kutai) Martapura di Muara Kaman, Kalimantan Timur. Yupa: Historical Studies Journal. 4, 2 (Dec. 2020), 50–61. DOI:https://doi.org/10.30872/yupa.v4i2.264.
(Azm)

