Suarastra.com – Jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau di wilayah Kutai Kartanegara (Kukar) menunjukkan penurunan dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, kabut asap masih menjadi perhatian karena kondisi cuaca yang belum sepenuhnya mendukung.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar, Aspianur Sandi, mengatakan dalam dua hingga tiga hari terakhir jumlah hotspot tidak lagi mencapai 100 titik per hari.
“Kalau kita kemarin, lumayan dalam beberapa hari ini ada positif dan negatif. Ketika Kaltim ditutup awan, mungkin rekan-rekan bisa merasakannya. Hotspot turun, cuma kabut asap tinggi,” ujar Aspianur, pada Selasa (22/09/26).
Ia menjelaskan, dari sejumlah titik yang terpantau, tidak seluruhnya merupakan titik kebakaran. Titik yang benar-benar teridentifikasi sebagai fire spot atau lokasi terbakar jumlahnya jauh lebih sedikit.
“Yang menjadi fire spot itu tidak sampai 10. Atau lebih dari yang misalnya medium sama high-nya, misalnya hari ini 30, yang terjadi fire spot atau yang menjadi titik terbakar itu tidak sampai 10 kejadian,” jelasnya.
Menurut Aspianur, penurunan tersebut menjadi perkembangan positif. Namun, BPBD tetap memprioritaskan penanganan kebakaran yang berada dekat dengan permukiman warga.
“Alhamdulillah menurun. Memang prioritas kita sekarang adalah penanganan kebakaran itu yang mendekati permukiman. Itu yang menjadi prioritas kita,” tegasnya.
Upaya pemadaman dan pencegahan juga didukung pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC). Aspianur mengatakan pelaksanaan OMC yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 19 September diperpanjang hingga 24 September 2026.
“OMC itu diperpanjang. Sebenarnya kemarin berakhir tanggal 19, akhirnya ini kita diperpanjang sampai tanggal 24,” katanya.
Meski demikian, kondisi awan dalam dua hari terakhir dinilai belum cukup mendukung terbentuknya hujan. BPBD berharap pelaksanaan OMC berikutnya dapat menghasilkan hujan di wilayah yang membutuhkan.
“Kemarin OMC yang terjadi selama empat hari, malah terdapat ada di Berau wilayah hulu. Kebanyakan larinya ke Pontianak, dapat hujannya. OMC-nya dari Kaltim,” ungkap Aspianur.
Terkait kondisi terkini, Aspianur memastikan tidak terdapat indikasi titik api baru dalam jumlah signifikan. Beberapa lokasi yang masih dipantau umumnya berada di kawasan lahan gambut.
“Ini bukan titik api baru, ini lokasi terbaru. Kalau titik terbaru, enggak ada,” ujarnya.
Salah satu kawasan yang masih menjadi perhatian berada di Cagar Alam Muara Kaman yang didominasi lahan gambut. Selain itu, BPBD juga memantau kawasan Muara Jawa yang berada di sekitar jalur pipa minyak Pertamina.
Sementara untuk wilayah Muara Badak, penanganan sebelumnya telah dituntaskan. Meski demikian, beberapa titik kembali muncul di Desa Badak Baru dan kawasan Tanjung Limau yang berbatasan dengan Marangkayu.
Terakhir, Aspianur menduga sebagian kejadian kebakaran tersebut berkaitan dengan aktivitas masyarakat yang kurang memperhatikan potensi terjadinya kebakaran.
“Nah, itu sebenarnya memang penyebabnya ya mungkin kegiatan-kegiatan masyarakat yang abai atau yang lalai,” pungkasnya.
(Oby/Mii)

