Suarastra.com – Festival Adat Kutai atau Erau Adat Kutai 2026 di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memasuki tahap akhir persiapan. Perhelatan budaya yang dijadwalkan berlangsung pada 20–27 September tahun ini memiliki standar pelaksanaan yang lebih luas karena masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Heriansyah, mengatakan status tersebut membuat pelaksanaan Erau tidak hanya berfokus pada kelancaran rangkaian adat dan budaya, tetapi juga harus memenuhi sejumlah standar yang ditetapkan pemerintah pusat.
“Erau tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Erau tahun ini sudah masuk Karisma Event Nusantara, sehingga standar pelaksanaannya harus diperhatikan. Ada standar dan target tertentu yang diminta oleh kementerian dan harus kita penuhi,” kata Heriansyah, pada Kamis (17/09/26).
Salah satu perhatian utama adalah persoalan lingkungan. Penyelenggara diminta memastikan kegiatan tidak meninggalkan persoalan sampah di lokasi pelaksanaan.
“Misalnya dalam proses pelaksanaan, bagaimana kegiatan ini tidak menimbulkan sampah di mana-mana. Penanganan sampah harus dipersiapkan dengan baik,” ujarnya.
Selain kebersihan, mitigasi risiko juga menjadi bagian dari standar penyelenggaraan Erau tahun ini. Penyelenggara harus memiliki langkah antisipasi apabila terjadi bencana atau kondisi darurat selama kegiatan berlangsung.
Dampak ekonomi juga menjadi perhatian. Menurut Heriansyah, pelaksanaan Erau harus memberikan manfaat yang dapat dirasakan pelaku usaha lokal, khususnya UMKM.
“Kemudian, apabila dalam proses pelaksanaan terjadi bencana, harus dibuat mitigasi risiko. Yang ketiga, bagaimana efek dari pelaksanaan Erau ini juga berdampak pada UMKM kita. Itu harus bisa diukur,” katanya.
Aspek komunikasi juga diperhatikan. Dengan masuknya Erau dalam agenda KEN, penyelenggaraan dituntut lebih terbuka bagi pengunjung dari luar daerah maupun mancanegara.
“Dalam proses pelaksanaan juga jangan hanya menggunakan satu bahasa. Harus ada bahasa lain yang bisa diakses atau diterjemahkan oleh pihak luar, terutama Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris,” jelasnya.
Lebih lanjut, Heriansyah juga menyebut persiapan fisik untuk kegiatan sakral telah mencapai sekitar 90 persen. Sejumlah rangkaian pra-Erau bahkan telah dilakukan oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21, Sultan Aji Muhammad Arifin.
“Kalau persiapan secara fisik untuk kegiatan sakral sudah hampir 90 persen. Bahkan pra-Erau, Ayahanda Sultan sudah melakukan beberapa rangkaian acara,” ungkapnya.
Rangkaian tersebut di antaranya ziarah ke makam para raja dan Sultan yang berada di kompleks Museum Mulawarman, kemudian dilanjutkan ke Desa Kutai Lama.
“Hari ini juga tadi dilaksanakan prosesi Pesawai,” tambah Heriansyah.
Untuk seluruh rangkaian sakral Erau, Sultan memiliki peran langsung dan mengikuti setiap prosesi yang telah menjadi bagian dari adat Kesultanan Kutai Kartanegara.
“Semua kegiatan sakral diikuti oleh Sultan,” tegasnya.
Disisi lain, di balik kemeriahan Erau, terdapat sejumlah aturan adat yang tetap dijaga hingga kini. Salah satunya adalah pantangan bagi Sultan untuk menginjakkan kaki langsung ke tanah selama rangkaian sakral tertentu berlangsung.
Sultan Aji Muhammad Arifin menjelaskan, aturan tersebut mulai berlaku sejak prosesi pendirian Tiang Ayu di istana atau Kedaton Museum Mulawarman hingga Tiang Ayu kembali dirobohkan sebagai penanda berakhirnya masa tersebut.
“Kalau menginjakkan kaki ke tanah itu, dimulai dari saat menirikan Tiang Ayu di istana atau Kedaton Museum sampai berakhirnya Tiang Ayu dirobohkan. Setelah itu baru kita bisa menginjak tanah,” jelas Sultan.
Selama aturan tersebut berlaku, aktivitas Sultan juga mengikuti ketentuan adat.
“Selama masa tersebut, kalau kita berada di rumah, ya di rumah. Tetapi kalau ke istana, kita menggunakan kain kuning,” katanya.
Bagi Sultan Aji Muhammad Arifin, aturan tersebut bukan sekadar simbol dalam pelaksanaan Erau. Tradisi itu merupakan warisan yang telah dijalankan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas adat Kutai.
“Namanya adat, kita tidak bisa mengubahnya dari zaman dahulu. Itu merupakan adat dari nenek moyang kita. Jadi sampai sekarang masih tetap dijalankan dan diteruskan kepada anak cucu kita, itu yang penting,” tutupnya.
(Oby/Mii)

