Suarastra.com – Ada petuah lama yang tak pernah benar-benar tua. Ia hanya menunggu untuk kembali didengar, ketika manusia mulai terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa kepada akar tempat ia tumbuh.
Hidup, kata para leluhur, bukan sekadar tentang panjangnya usia atau banyaknya yang kita miliki. Hidup adalah tentang bagaimana kita menempatkan diri tahu kapan harus melangkah, kapan harus menunduk, kapan berbicara, dan kapan memilih diam.
Hidup dikandung adat
Sebab adat mengajarkan manusia mengenal batas antara yang patut dan yang tidak. Ia bukan sekadar aturan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan cermin yang mengingatkan kita bahwa di dalam setiap langkah ada adab, dan di balik setiap kata ada hati yang harus dijaga.
Lalu mati dikandung tanah
Pada akhirnya, setinggi apa pun kedudukan seseorang, sebanyak apa pun harta yang dikumpulkan, tanah tetap menjadi tempat kita kembali. Di hadapan tanah, gelar menjadi sunyi. Kekayaan menjadi tak berarti. Yang tinggal hanyalah jejak kebaikan yang pernah kita tinggalkan kepada sesama.
Mungkin itulah rahasia yang ingin disampaikan leluhur kepada kita,
“Jadilah manusia sebelum berusaha menjadi apa-apa,”
Sebab dunia boleh berubah, zaman boleh berlari, dan generasi boleh berganti. Namun hati manusia tetap membutuhkan akar, nilai, adab, dan kebijaksanaan.
Karena ketika langkah kita kehilangan arah, warisan leluhur dapat menjadi penunjuk jalan. Dan ketika hati mulai jauh dari Tuhan, kearifan masa lalu sering kali menjadi bisikan lembut yang mengajak kita pulang.
Hiduplah dengan adat, berjalanlah dengan adab, dan kembalilah kepada tanah dengan meninggalkan kebaikan.
Sebab manusia mungkin dilupakan setelah kematian, tetapi kebaikan yang ditanam dengan tulus akan menemukan jalannya sendiri dari hati ke hati, dari generasi ke generasi.
#Avisapranatungga

