Suarastra.com – Malam di halaman Museum Negeri Mulawarman, Tenggarong, mendadak berubah menjadi panggung cerita rakyat. Fasad bangunan museum disulap menjadi kanvas raksasa yang menampilkan kisah Putri Karang Melenu melalui cahaya, animasi, musik, dan efek suara.
Pertunjukan Video Mapping tersebut digelar PKMPM MELUNARA Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) di halaman UPTD Museum Negeri Mulawarman, pada Kamis (06/08/26) malam.
Ratusan masyarakat memadati lokasi. Telepon genggam terangkat hampir di sepanjang pertunjukan, mengabadikan setiap perubahan visual yang diproyeksikan ke bangunan bersejarah tersebut.
Cerita tentang Putri Karang Melenu yang selama ini hidup melalui tutur dan ingatan masyarakat, malam itu dikemas dengan bahasa yang berbeda. Teknologi digital menjadi medium untuk membawa legenda Kutai lebih dekat kepada generasi masa kini.
Plt Kepala UPTD Museum Negeri Mulawarman Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Sugiyono Ideal, menilai pendekatan kreatif seperti video mapping dapat menjadi cara baru dalam mengenalkan sejarah dan budaya lokal.
“Pertunjukan Video Mapping ini menjadi inovasi dalam mengenalkan sejarah dan budaya lokal sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat, terutama generasi muda,” katanya.
Menurut Sugiyono, museum tidak semestinya hanya dipandang sebagai tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Museum juga dapat berkembang menjadi ruang edukasi dan kreativitas yang mengikuti perkembangan zaman.
Pandangan serupa disampaikan Humas UPTD Museum Negeri Mulawarman, Mangir Anggoro Titiantoro. Tingginya antusiasme masyarakat, menurutnya, menunjukkan bahwa cerita budaya masih memiliki ruang besar di tengah masyarakat ketika disampaikan dengan pendekatan yang relevan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat memperkuat kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya Kutai sekaligus menjadikan museum sebagai ruang belajar yang menyenangkan,” ujarnya.
Malam itu, bangunan Museum Negeri Mulawarman bukan sekadar latar pertunjukan. Ia menjadi bagian dari cerita.
Legenda Putri Karang Melenu dipadukan dengan teknologi visual sehingga sejarah dan cerita rakyat tidak hanya didengar atau dibaca, tetapi juga dinikmati melalui pengalaman audio-visual.
Bagi masyarakat yang hadir, pertunjukan tersebut menjadi hiburan. Namun di balik gemerlap cahaya, ada pesan yang lebih panjang: cerita lama tetap bisa hidup, selama ada cara baru untuk menceritakannya.
Kolaborasi PKMPM MELUNARA Unikarta bersama Museum Negeri Mulawarman pun diharapkan menjadi awal bagi lebih banyak inovasi dalam memperkenalkan sejarah dan budaya Kutai kepada generasi muda.
(*/Oby/Mii)

