Suarastra.com – Ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin layak kita renungkan bersama. Kapan terakhir kali kita ikut kerja bakti tanpa diminta? Atau sekadar membantu tetangga yang sedang kesulitan tanpa berharap imbalan?
Jawabannya mungkin membuat kita tersenyum kecut.
Di banyak tempat, gotong royong masih sering disebut sebagai budaya asli Indonesia. Anak-anak masih mempelajarinya di sekolah. Pejabat masih menyebutnya dalam pidato. Namun dalam kehidupan sehari-hari, nilai itu perlahan kehilangan tempat.
Bukan karena masyarakat sudah tidak mengenal gotong royong, tetapi karena kita mulai lebih akrab dengan budaya “urus diri sendiri.”
Jurnal Internalisasi Budaya Gotong Royong Sebagai Identitas Nasional karya Nelly Marhayati menyebut kondisi ini sebagai entropi budaya. Nilai gotong royong sebenarnya masih hidup di dalam pikiran masyarakat, tetapi tidak lagi cukup kuat untuk mengendalikan perilaku sosial. Akibatnya, gotong royong lebih sering menjadi slogan daripada kebiasaan nyata. 68407-238650-1-PB.pdf
Fenomena itu sebenarnya mudah ditemukan.
Dulu, membersihkan lingkungan dilakukan bersama-sama. Hari ini, lebih praktis membayar orang lain untuk melakukannya. Dulu, ronda malam menjadi ruang berkumpul warga. Kini banyak anak muda lebih memilih menghabiskan malam di kafe atau sibuk menatap layar ponsel. Pergeseran ini bukan salah satu generasi semata, tetapi cerminan perubahan cara hidup masyarakat modern. 68407-238650-1-PB.pdf
Padahal gotong royong tidak pernah sekadar soal mengangkat kayu, membangun rumah, atau membersihkan parit.
Di baliknya ada nilai yang jauh lebih besar: keikhlasan, saling percaya, kebersamaan, toleransi, hingga kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Nilai-nilai inilah yang selama ratusan tahun menjadi perekat masyarakat Indonesia. 68407-238650-1-PB.pdf
Ironisnya, ketika teknologi membuat manusia semakin mudah terhubung, hubungan antarmanusia justru terasa semakin renggang.
Media sosial memungkinkan kita mengetahui kehidupan ribuan orang, tetapi belum tentu mengenal tetangga sendiri. Grup WhatsApp lingkungan ramai setiap hari, tetapi kerja bakti sering sepi peserta. Kita menjadi masyarakat yang cepat memberi tanda “like”, tetapi lambat mengulurkan tangan.
Kalau terus dibiarkan, gotong royong hanya akan berubah menjadi simbol budaya. Masih dikenang, tetapi tidak lagi dijalankan.
Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, bahkan pernah menyebut gotong royong sebagai “perasan” dari Pancasila. Baginya, Indonesia bukan sekadar negara yang berdiri di atas lima sila, melainkan negara gotong royong, tempat seluruh rakyat bekerja, berjuang, dan menikmati hasil bersama. 68407-238650-1-PB.pdf
Pesan itu terasa semakin relevan hari ini.
Indonesia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari bencana alam, kesenjangan sosial, polarisasi politik, hingga derasnya arus globalisasi. Semua itu sulit dihadapi jika masyarakat berjalan sendiri-sendiri.
Gotong royong bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah modal sosial yang membuat masyarakat mampu bertahan dalam situasi sulit. Ketika rasa saling percaya tumbuh, masyarakat lebih mudah bekerja sama, menyelesaikan persoalan, bahkan bangkit setelah krisis. 68407-238650-1-PB.pdf
Karena itu, menghidupkan kembali gotong royong tidak cukup hanya melalui slogan atau peringatan Hari Kemerdekaan. Nilai itu harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dimulai dari keluarga yang membiasakan anak saling membantu, sekolah yang memberi ruang kolaborasi, hingga lingkungan yang kembali menghidupkan kerja bakti dan kepedulian sosial.
Gotong royong tidak harus selalu berupa cangkul dan sapu.
Membantu korban bencana, berbagi informasi yang benar, mendukung pelaku UMKM lokal, mendonorkan darah, hingga menyisihkan waktu membantu tetangga yang membutuhkan juga merupakan bentuk gotong royong di era modern.
Pada akhirnya, identitas bangsa bukan hanya ditentukan oleh bendera, lagu kebangsaan, atau lambang negara. Identitas juga tercermin dari bagaimana masyarakatnya saling memperlakukan satu sama lain.
Jika gotong royong benar-benar ingin tetap menjadi jati diri Indonesia, maka ia tidak boleh berhenti sebagai materi pelajaran atau kutipan pidato. Ia harus kembali menjadi kebiasaan.
Sebab bangsa ini tidak dibangun oleh orang-orang yang berjalan sendiri, melainkan oleh mereka yang percaya bahwa pekerjaan besar selalu lebih ringan ketika dikerjakan bersama.
Penulis: Oby
Sumber: Jurnal Pemikiran Sosiologi “Internalisasi Budaya Gotong Royong Sebagai Identitas Nasional” (Nelly Marhayati)

