Suarastra.com – Ada lagu yang selesai ketika musiknya berhenti. Ada juga lagu yang baru benar-benar dimulai setelah seseorang membawanya pulang ke dalam kehidupan sendiri.
Di antara banyak lagu yang terus melintasi waktu, Sampai Jadi Debu dari Banda Neira menjadi salah satu yang masih diam-diam menetap di telinga banyak orang. Dirilis pada 2016 dalam album Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti, lagu ini justru terus menemukan pendengar baru hingga bertahun-tahun sesudahnya.
Bagi sebagian anak muda, lagu ini bukan sekadar musik latar. Ia menjadi tempat menyimpan seseorang yang sudah pergi, masa kecil yang tidak bisa diputar ulang, atau rumah yang perlahan berubah bentuk.
Dan mungkin menariknya bukan hanya pada melodi yang pelan, melainkan pada cara lagu itu berbicara. Sebab Banda Neira tidak menulis rindu dengan kata-kata yang berisik.
Lirik kecil seperti “Badai tuan telah berlalu” misalnya, tampak sederhana. Namun jika dibedah, badai dalam lagu ini tidak selalu berarti bencana besar. Ia bisa menjadi hari-hari berat, pertengkaran, kehilangan, kecemasan, atau fase hidup yang melelahkan. Kalimat itu terdengar seperti seseorang yang baru selesai melalui masa sulit dan sedang menghela napas panjang.
Sesudah itu muncul potongan “Salahkah ku menuntut mesra”.
Kalimat ini terasa seperti pertanyaan yang pelan, tetapi menyimpan banyak hal. Ada keraguan di dalamnya. Sebab sering kali manusia terbiasa berpura-pura kuat. Kita diajarkan untuk mandiri, terbiasa menanggung semuanya sendiri, sampai akhirnya merasa bersalah ketika ingin ditemani.
Di situ Banda Neira seperti sedang berkata bahwa ingin disayangi bukanlah sesuatu yang berlebihan.
Lalu ada potongan “Kau di sampingku”.
Hanya tiga kata.
Tetapi mungkin justru itu inti seluruh lagu tersebut. Sebab sebagian besar manusia tidak mencari orang yang mampu menyelesaikan semua masalah. Kadang orang hanya ingin seseorang tetap tinggal.
Anak muda hari ini tampaknya memiliki cara berbeda untuk merawat perasaan itu. Jika generasi sebelumnya menulis surat, generasi sekarang membuat playlist.
Playlist dengan nama untuk yang tak sempat pulang, yang gagal dilupakan, atau malam terlalu panjang muncul di berbagai platform musik. Lagu-lagu dipilih seperti mengumpulkan potongan kenangan.
Mereka mungkin tidak mengirim pesan kepada seseorang yang dirindukan. Tetapi mereka memutar lagu yang sama berulang kali.
Dan bagian yang paling banyak tinggal di kepala pendengar mungkin adalah penggalan “Sampai kita tua”.
Bukan karena kalimat itu terdengar romantis, melainkan karena ia berbicara tentang sesuatu yang mulai terasa langka: bertahan.
Di masa ketika hubungan sering hadir dan pergi begitu cepat, ketika percakapan dapat berhenti hanya karena tidak lagi saling membalas pesan, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang jauh.
Lalu lagu itu ditutup dengan potongan “Ku di sebelahmu”.
Bukan janji tentang kemewahan, bukan tentang perjalanan besar, bukan pula tentang hal-hal megah.
Hanya tentang keberadaan.
Mungkin karena itu Sampai Jadi Debu bertahan sampai sekarang. Lagu ini tidak sedang mengajarkan cara melupakan seseorang. Ia hanya mengingatkan bahwa rindu tidak selalu harus disembuhkan.
Kadang-kadang ia cukup dipelihara pelan-pelan.
Seperti seseorang yang menekan tombol putar lagi, memasang earphone, menatap jendela di perjalanan pulang, lalu membiarkan musik menyelesaikan hal-hal yang tidak sanggup diucapkan manusia.
(Azm)

