Suarastra.com – Nada pertama itu lahir dari sunyi yang panjang. Dari kamar-kamar kecil tempat lirik ditulis perlahan, dari senar yang dipetik dengan keyakinan, bahwa tradisi tak harus berteriak untuk didengar. Senin (19/1/2026), di tengah kegiatan Fasilitasi Tenaga Pendukung Kesenian dan Kebudayaan, karya-karya itu akhirnya menemukan rumah resminya yakni pengakuan negara atas lagu-lagu Kutai yang digubah anak-anak muda Tenggarong.
Achmad Fauzi akrab disapa Oji, Founder sekaligus Komposer Petala Borneo, menuturkan kisah itu dengan wajah yang tenang namun mata yang menyala.
“Kami ini kelompok musik yang berbasis musik tradisi di Kutai Kartanegara. Beberapa bulan lalu, alhamdulillah, kami merilis satu album berisi 12 lagu berbahasa Kutai,” ujarnya.
Lagu-lagu itu bukan sekadar bunyi, ia mengandung Museum Mulawarman, Naik Ayun, Ulap Doyo, hingga denyut masyarakat pesisir Kutai Kartanegara semuanya dirangkai dalam satu napas kebudayaan.
Album bertajuk Bunga Hati Bertemu diluncurkan secara sederhana, berbasis komunitas, pada 9 Agustus 2025. Di malam itu, Oji mengundang berbagai OPD, termasuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara.
“Alhamdulillah, kami langsung mendapatkan apresiasi dari bidang kebudayaan berupa fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual yang didaftarkan ke Kementerian Hukum,” katanya. Hari ini, resepsi penyerahan sertifikat itu menjadi penanda atas kerja sunyi yang mendapat gema.
Sebelas lagu menerima pengakuan sekaligus satu lainnya telah lebih dulu di HKIkan.
“Ini pemantik baru bagi anak-anak muda di Tenggarong yang hobi bermusik, menulis lagu, mencipta, dan mengomposisi,” ucap Oji.
Ia mengaku, di awal, Petala Borneo merasa berjalan sendiri. Namun ternyata, negara menyediakan ruang untuk mengapresiasi kerja-kerja kebudayaan. Sebelas judul itu kini tercatat, yakni Ulap Doyo, Musium Mulawarman, Kesah Erau, Salam Rindu, Bunga Hati Betemu, Naik Ayun, Jagai Budaya Etam, Betingkilan, Aji Batara Agung Dewa Sakti, Kawanan, dan Pembualan.
Seluruhnya lahir dari tangan anak muda Kutai Kartanegara, kisah lawas dan bahari dibalut bunyi yang akrab bagi telinga Gen Z.
“Gaya bermusik dan sound kami sesuaikan dengan selera anak muda. Mudah-mudahan lagu-lagu ini jadi playlist mereka,” harap Oji.
Prosesnya tidaklah singkat. Penulisan hingga rampung album memakan waktu hampir setahun, rekaman hingga rilis sekitar tiga bulan.
Semua dikerjakan mandiri dari lirik, rekaman, hingga produksi. Kini, lagu-lagu itu telah berlayar di berbagai platform Spotify, YouTube Music, Apple Music, hingga media sosial. Bahkan, apresiasi datang dari luar daerah.
“Di Solo, album kami diperdengarkan dalam kegiatan Manajemen Talenta Nasional Kementerian Kebudayaan. Pesertanya dari 10 provinsi. Mereka kaget ternyata di Kutai ada lagu-lagu seperti ini dan digarap anak muda,” tutur Oji.
Bagi Petala Borneo, pengakuan bukan tujuan akhir. Ia adalah tangga agar tradisi tetap hidup.
“Jangan hanya memainkan karya orang lain. Ciptalah, supaya ada yang ditinggalkan dan diwariskan. Karena karya itulah yang akan berbicara,” ucap Oji, menutup kisahnya dengan keyakinan yang tenang.
Dari sisi pemerintah, dukungan itu datang sebagai komitmen. Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutai Kartanegara, Puji Utomo, menyebut fasilitasi HKI sebagai salah satu bentuk perhatian nyata.
“Kami membantu pengurusan HKI hingga sertifikat. Secara administratif tetap pribadi masing-masing, kami hadir sebagai support,” jelasnya. Dukungan lain pun berjalan dari penampilan seni daerah di Titik Nol, lomba cipta lagu dan pidato berbahasa Kutai bagi pelajar, hingga ruang-ruang tampil bagi seniman.
Puji Utomo menegaskan apresiasinya pada Petala Borneo.
“Talenta-talenta di bawah naungan Petala ini luar biasa. Karya-karya mereka yang hari ini mendapatkan 11 HKI adalah bentuk penghargaan pemerintah terhadap seni cipta lagu,” katanya.
Harapannya sederhana namun jauh, agar kerja-kerja seperti ini terus tumbuh, menguatkan pemajuan kebudayaan Kutai Kartanegara, dan menjaga Tingkilan tetap bernapas di zaman yang berubah.
Di ujung hari, lagu-lagu itu tak lagi sekadar gema dari masa lalu. Ia kini tercatat, dilindungi, dan siap diwariskan sebagai bukti bahwa ketika tradisi dirawat dengan cinta, ia akan selalu menemukan pendengarnya.
(Azm)

