Suarastra.com – Di sebuah ruang tafakur sastra, puisi “Syair Luka Sang Pangeran” dilantunkan dengan suara tenang namun bergetar oleh David Darmawan, seorang tokoh Betawi kontemporer yang dikenal luas sebagai pengusaha, aktivis budaya, sekaligus pemimpin organisasi masyarakat Betawi. Pembacaan puisi itu bukan sekadar peristiwa sastra, melainkan pertemuan antara luka batin manusia dan identitas budaya yang terus dijaga di tengah zaman.
David Darmawan dikenal sebagai figur adat dan budaya Betawi modern. Ia memegang amanah sebagai Rais Laskar Suku Betawi, memimpin barisan kultural yang berupaya menjaga marwah, tanah, dan jati diri Betawi. Di luar ranah adat, ia juga menjabat Direktur Utama PT Betawi Global Korporatindo serta pendiri Socentix, sebuah platform yang mendorong kewirausahaan sosial dan pemanfaatan teknologi mutakhir seperti Blockchain dan Web 3.0 bagi kemajuan peradaban Betawi.
Dalam dunia usaha, David Darmawan bergerak di bidang teknologi finansial dan pengembangan sistem perdagangan digital. Ia berupaya menjembatani nilai lama dan dunia baru menganyam tradisi dengan inovasi, agar Betawi tidak sekadar dikenang sebagai masa lalu, melainkan hadir sebagai subjek aktif di era digital. Baginya, kemajuan bukanlah pengingkaran adat, melainkan cara lain untuk menjaganya tetap hidup.
Sebagai aktivis budaya, ia dikenal kerap tampil dengan baju pangsi, membawa gaya Betawi yang lugas dan berani. Sikap ini menjelma citra yang oleh banyak orang disebut sebagai “jawara zaman now” tegas namun beradab, keras dalam sikap tetapi berpijak pada nilai religius dan kearifan lokal. Dalam tutur dan laku, ia menghidupkan prinsip Betawi: terbuka, terus terang, dan pantang tunduk pada ketidakadilan.
Di ranah sosial, David Darmawan, Rais laskar suku Betawi, Pangeran tanah bang ini juga aktif menyuarakan isu keadilan. Ia terlibat dalam berbagai advokasi, termasuk mendukung pemberantasan korupsi dan mengawal kasus-kasus yang menyangkut kepentingan rakyat, seperti dugaan praktik mafia pertambangan. Perjuangan itu dijalankannya seiring dengan kerja-kerja budaya sebuah keyakinan bahwa adat, keadilan, dan martabat manusia tak dapat dipisahkan.
Ketika “Syair Luka Sang Pangeran” dibacakan olehnya, sosok pangeran dalam puisi itu menjelma sebagai metafora manusia yang berkuasa atas dunia, namun tak berdaya di hadapan cinta dan keikhlasan. Mahkota duri, istana sunyi, dan pedang keikhlasan yang hadir dalam bait-bait puisi terasa berkelindan dengan perjalanan batin sang pembaca seorang penjaga identitas yang memahami luka, kehilangan, dan arti melepaskan.
Pembacaan puisi tersebut menjadi cermin bahwa sastra dapat menjadi suara zaman, dan budaya menemukan jalannya melalui laku manusia. Dalam diri David Darmawan, Betawi tampil bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai sikap hidup berdiri tegak di persimpangan adat dan masa depan, menjaga akar sambil menatap hari esok.
…
Syair Luka Sang Pangeran
Dengarkan, O angin yang berhembus dari taman-tamanku yang layu,
Aku adalah pangeran dengan mahkota dari duri, penguasa tanpa ratu.
Istana-istana megahku bagai sangkar emas yang membisu,
Menjaga rahasia jiwa yang merana, tersiksa oleh rindu.
Di puncak menara, kumemandang bintang-bintang bersemayam,
Memohon pada bulan untuk menyampaikan pesan cinta yang terpendam.
Kutempuh lembah-lembah kesunyian dengan jubah yang bertambal,
Mencari setetes embun kasih di padang pasir yang tandus dan keringkal.
Kuberikan kerajaanku permata, kuda, dan takhta yang berkilau,
Kutukarkan semua gelar untuk sebutir senyum darimu, wahai kekasih.
Tapi hatimu bagai benteng kaca yang bening namun tak tersentuh,
Menyaksikan semua pengorbananku, tapi tak sudi membuka pintu.
Oh, jiwa yang terdampar di samudra cinta yang tak bertepi!
Usaha apa lagi yang harus kupersembahkan? Doa apa lagi yang harus kupanjatkan?
Bahkan air mata darah sang pangeran tak mampu membasahi bumi hatimu,
Padahal bagi semesta, tangisku adalah perintah, namun bagimu hanya bisu.
Maka hari ini, dengan pedang keikhlasan, kupenggal semua harapan.
Kubaringkan jiwaku yang terluka di bawah pohon kepasrahan.
Bukan karena aku kalah, atau tak mampu mengejar,
Tapi karena mencintaimu adalah mengosongkan lautan dengan tempurung—sia-sia belaka.
Biarlah cinta ini menjadi mawar yang tak pernah kau petik,
Wanginya abadi dalam ingatanku, durinya tertanam dalam detak jantungku.
Kau tetap dewa di kuil impianku, walau tak lagi kusembah.
Dan aku? Aku adalah pangeran yang kembali pada singgasana sunyi—mengatur reruntuhan cinta yang gagal.
Biarlah sang waktu menelan kisah ini. Biarlah malam menyelimuti lara.
Aku melepasmu, bukan karena benci, tapi karena mencintaimu lebih dari takdirku sendiri.
Dan dalam kepergianku, kutinggalkan mahkota di ambang pintumu,
Sebagai tanda: bahkan seorang pangeran pun tak sanggup memaksa hati yang tak mau berlabuh.
…
Si penyair menjelaskan bahwa puisi Syair Luka Sang Pangeran merupakan sebuah metaforfosis dari apa yang tengah berlangsung di negeri ini. Ia memaknainya sebagai kegagalan amanah yang pernah dititipkan kepada republik, sebuah kepercayaan yang perlahan runtuh dan meninggalkan luka yang tak kasatmata.
“Sebuah kegagalan amanah yang pernah kita titipkan kepada republik. Bukan sekadar mahkota duri yang dipikirkan sang pangeran, melainkan pecahan beling yang ditelan oleh rakyatnya, hari demi hari,” ungkapnya lirih.
Ia kemudian menautkan luka itu dengan kegelisahan batin yang lebih dalam, sebuah penyakit ruhani yang tak selalu tampak, tetapi diam-diam menggerogoti arah keadilan.
“Sebagaimana bisikan Imam Al-Ghazali tentang penyakit ruhani, ketidakadilan lahir ketika hati lupa pada Sang Pencipta,” ujarnya, seolah berbicara kepada ruang sunyi.
Dalam tarikan napas yang sama, si penyair mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar deretan tahun, melainkan peringatan yang terus berulang bagi mereka yang abai.
“Dan sebagaimana dicatat Ibn Khaldun dalam hukum sejarahnya, saat ‘ashabiyah runtuh, peradaban pun melangkah menuju inhithath, kemerosotan yang tak terelakkan,” katanya, perlahan.
Baginya, metamorfosis yang terjadi bukanlah luka seorang tokoh rekaan semata, melainkan luka yang berpindah dari dada ke dada, menjadi ingatan kolektif yang belum sepenuhnya diakui.
“Metamorfosis negeri ini adalah luka kolektif, bukan sekadar bait puisi, melainkan catatan batin sebuah bangsa yang sedang terluka, yang menunggu keberanian untuk bercermin dan mengakui,” tuturnya.
Ia lalu menegaskan bahwa di hadapan luka itu, bangsa ini tidak benar-benar kehilangan pilihan. Jalan selalu ada, meski sering dihindari.
“Kini pilihan itu terang benderang, terus merintih dalam lingkaran sejarah yang berulang, atau bangkit dengan hati yang dibersihkan,” ucapnya pelan.
Menurutnya, kebangkitan hanya mungkin terjadi jika keadilan kembali dihidupkan dan solidaritas dirajut ulang, bukan sebagai slogan, melainkan sebagai laku bersama.
(Caa)

