Suarastra.com – Sebuah kawasan pertanian tidak harus berhenti pada aktivitas menanam dan memanen. Di Karang Tunggal, Kecamatan Tenggarong Seberang, lahan pertanian justru tengah disiapkan menjadi ruang yang lebih luas: tempat produksi, pembelajaran, percontohan, hingga pintu masuk bagi pengembangan potensi desa.
Melalui program Kawasan Pertanian Terpadu (KPT) SMART, Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kabupaten Kutai Kartanegara mendorong KPT Karang Tunggal menjadi pusat percontohan lapangan sekaligus ruang belajar untuk mengembangkan konsep pertanian terpadu.
Program tersebut merupakan bagian dari Aksi Perubahan Revitalisasi Kawasan Pertanian Terpadu Karang Tunggal sebagai Pusat Percontohan Lapangan dan Pembelajaran Pertanian Terpadu untuk mendukung ketahanan pangan Kukar.
Kepala Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Disketapang Kukar, Evi Violidhan, mengatakan KPT Karang Tunggal masih berada pada tahap awal pengembangan. Kawasan ini dibangun Pemerintah Kabupaten Kukar pada 2025 dan mulai memasuki tahap pengisian serta pengelolaan pada 2026.
Pemerintah daerah, kata Evi, mengambil posisi sebagai pembina. Sementara pengelolaan kawasan diserahkan kepada pihak yang telah diberikan kewenangan.
“Pada tahun 2026 ini kita akan melihat bagaimana kawasan ini dikelola oleh teman-teman yang ada di sini. Kami hanya sebagai pembina, sementara mereka yang mengelola kawasan ini,” ujar Evi, Senin (14/9/2026).
Bagi Disketapang Kukar, Karang Tunggal bukan sekadar kawasan produksi. Potensinya masih terbuka lebar untuk dikembangkan, mulai dari wisata pertanian, pengolahan hasil pertanian, hingga kegiatan industri yang bertumpu pada potensi kawasan.
Karena itu, KPT Karang Tunggal diposisikan sebagai laboratorium awal sebelum konsep yang berhasil dikembangkan dibawa ke desa lain.
Desa Sumber Sari menjadi salah satu lokasi berikutnya yang diproyeksikan mengadopsi hasil pengembangan tersebut. Setelah itu, konsep serupa diharapkan dapat diterapkan di desa-desa lainnya.
“Kami menjadikan kawasan ini sebagai percontohan terlebih dahulu. Setelah itu, hasilnya akan dikembangkan dan diterapkan di Desa Sumber Sari. Kemudian di desa lainnya. Harapan kami, jangan hanya satu desa yang maju,” jelas Evi.
Untuk memastikan kawasan tidak berjalan tanpa arah, KPT SMART dilengkapi sejumlah perangkat pengelolaan. Mulai dari profil kawasan, pedoman tata kelola, Standar Operasional Prosedur (SOP), kalender kegiatan, hingga instrumen monitoring dan evaluasi.
Pembelajaran juga menjadi bagian penting. Salah satunya melalui pelatihan dan percontohan akuaponik sebagai upaya memperkenalkan pola pertanian yang mengintegrasikan berbagai potensi dalam satu kawasan.
Ke depan, KPT Karang Tunggal diarahkan tumbuh melalui konsep 5A: Agroproduksi, Agroindustri, Agrobisnis, Agroteknologi, dan Agrowisata.
Lima pendekatan tersebut menjadi gambaran bahwa pertanian tidak hanya berbicara soal hasil panen, tetapi juga bagaimana hasil itu diolah, memiliki nilai ekonomi, didukung teknologi, dan dapat membuka ruang baru bagi masyarakat.
Evi menilai, potensi yang sudah tersedia di kawasan tersebut harus mulai digerakkan.
“Di sini banyak sekali potensi yang bisa dikembangkan. Jangan sampai potensi yang ada hanya dibiarkan begitu saja. Potensi tersebut harus dikembangkan, dikeluarkan, dan dimulai dari sekarang,” pungkasnya.
(Oby/Mii)

