Suarastra.com – Di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, tradisi bukan sekadar warisan yang disimpan, tetapi dijalankan dan dihidupkan. Salah satunya melalui ritual Nutuk Beham, tradisi adat Kutai Lawas yang telah berlangsung selama ratusan tahun secara turun-temurun.
Ritual ini menjadi penanda datangnya musim panen raya, sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil ladang yang mereka peroleh. Warga desa membawa padi gunung hasil tanamannya masing-masing menuju balai adat, dalam suasana kebersamaan yang sarat makna.
Lebih dari sekadar prosesi, Nutuk Beham menyimpan nilai filosofis yang dalam tentang hubungan manusia dengan alam dan leluhur. Tradisi ini juga menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk memahami akar budaya mereka.
Wakil Ketua Adat, Sartin, menegaskan bahwa pendidikan formal memang penting, namun tidak boleh membuat generasi muda melupakan asal-usulnya.
“Pendidikan di luar itu penting, tetapi kita juga harus ingat dengan asal-usul kita. Nilai-nilai itu harus ditanamkan sejak dini, agar tradisi-tradisi seperti ini bisa terus berlanjut,” ujar Wakil Kepala Adat itu, pada Jumat (24/04/26).
Melalui keterlibatan langsung dalam ritual, generasi muda diajak memahami setiap tahapan, tata cara, hingga makna yang terkandung di dalamnya. Tidak hanya tentang proses menumbuk padi, tetapi juga tentang sejarah dan kepercayaan yang menyertainya.
Salah satu nilai yang masih dijaga adalah penghormatan terhadap padi sebagai sumber kehidupan. Dalam kepercayaan masyarakat dahulu, padi memiliki asal-usul yang sakral, sehingga perlakuannya pun penuh kehati-hatian.
“Pada zaman dahulu, beras atau nasi itu sangat dihormati. Jika nasi tumpah, tidak boleh disapu, apalagi dibuang ke tempat kotor. Karena dalam kepercayaan tersebut, padi itu berasal dari pengorbanan seorang gadis yang kemudian menjadi padi,” jelas Sartin.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi Nutuk Beham tetap dijalankan tanpa kehilangan esensinya. Penyesuaian dilakukan pada aspek penyelenggaraan agar tetap relevan, namun nilai-nilai utama dan tata cara ritual tetap dipertahankan.
“Runutan tata cara tetap dijaga. Nilai-nilai historis dan makna tradisi tidak diubah. Yang menyesuaikan hanya bentuk acaranya agar sesuai dengan perkembangan zaman,” katanya.
Sebagai informasi, Festival Budaya Kutai Adat Lawas Nutuk Beham sendiri telah digelar selama tiga hari, sejak 23 hingga 25 April 2026. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga pengingat bahwa di balik setiap tradisi, tersimpan identitas dan cara pandang hidup yang diwariskan lintas generasi.
(Oby/Mii)

