Suarastra.com – Tradisi adat Kutai Lawas Nutuk Beham di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, terus mendapat perhatian sebagai bagian penting dari identitas budaya daerah. Ketua DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Ahmad Yani, menegaskan bahwa tradisi ini harus dijaga dan dilestarikan secara berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri rangkaian Festival Budaya Nutuk Beham yang digelar pada 23-25 April 2026.
“Ini perlu kita lestarikan, perlu kita support, karena kegiatan ini salah satu keanekaragaman budaya, dan bisa dijadikan giat wisata ke depannya,” ujar Ahmad Yani, Jumat (24/04/26).
Ia menilai, Nutuk Beham bukan sekadar ritual tahunan masyarakat adat setelah masa panen, tetapi juga memiliki nilai budaya yang kuat dan berpotensi dikembangkan lebih luas.
“Maksud kami, tradisi seperti ini harus terus dipelihara, dilestarikan, dan bisa dilaksanakan secara berkelanjutan,” katanya.
Lebih jauh, Yani melihat adanya peluang ekonomi yang dapat dikembangkan dari tradisi tersebut. Proses menumbuk padi secara tradisional dinilai menghasilkan beras dengan kualitas dan cita rasa yang berbeda dibandingkan beras olahan pabrik.
“Selain nilai budayanya, hasil dari tumbukan padi ini juga memiliki potensi ekonomi. Berbeda dengan beras pabrikan yang diolah mesin, hasil tumbukan tradisional ini pasti memiliki cita rasa yang lebih alami,” ujarnya.
Ia juga mendorong, agar hasil produksi tersebut mulai dipasarkan secara lebih luas. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memperoleh nilai tambah dari sisi ekonomi.
“Karena itu, kami berharap hasil ini bisa dipasarkan. Selain melestarikan budaya, juga bisa memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat,” tuturnya.
Festival Nutuk Beham sendiri menjadi ruang hidup bagi tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Di dalamnya, masyarakat tidak hanya merayakan hasil panen, tetapi juga menjaga nilai kebersamaan dan kearifan lokal yang terus bertahan di tengah perubahan zaman.
(Oby/Mii)

