Suarastra.com – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menempatkan kebudayaan sebagai fondasi penting bagi pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Menurutnya, di saat sumber daya alam kian menipis, budaya justru hadir sebagai kekuatan yang terus tumbuh dan mampu menjadi penggerak utama ekonomi nasional.
Hal tersebut disampaikan Fadli Zon dalam pidato berjudul “Kekayaan Budaya Sebagai Penopang Ekonomi Inklusif dan Berkelanjutan” pada diskusi budaya bertema “Pembangunan Ekonomi Berbasis Seni dan Pelestarian Budaya”.
“Negara-negara maju sudah lama menyadari bahwa sumber daya alam tidak selamanya bisa diandalkan. Karena itu mereka membangun kekuatan ekonominya melalui cultural and creative industry,” ujar Fadli dalam keterangan resmi dalam kegiatan Starting Year Forum 2026 beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, budaya kini tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi telah menjadi bagian dari industri modern yang dikenal sebagai cultural economy and industry atau cultural and creative industry (CCI). Melalui sektor inilah, banyak negara mampu memperkuat posisi ekonomi sekaligus pengaruhnya di tingkat global.
Fadli menilai Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk mengembangkan ekonomi berbasis budaya. Ratusan cagar budaya nasional, ribuan warisan budaya tak benda, serta museum-museum yang terus berbenah menjadi bukti kekayaan tersebut.
Ia mencontohkan Museum Nasional Indonesia yang mengalami peningkatan jumlah pengunjung secara signifikan. Lonjakan itu menunjukkan bahwa kebudayaan dapat dikelola sebagai sektor produktif, mulai dari pemasukan tiket, pameran tematik, hingga pengembangan produk kreatif seperti cendera mata dan kuliner khas.
“Kebudayaan bisa menciptakan ekosistem ekonomi yang hidup jika dikelola secara profesional,” katanya.
Lebih lanjut, Fadli menguraikan bahwa kebudayaan nasional mencakup sepuluh objek pemajuan kebudayaan sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017. Objek tersebut meliputi bahasa, tradisi lisan, manuskrip, ritus, adat istiadat, seni, sastra, film, hingga budaya digital.
Dengan lebih dari 1.300 kelompok etnik dan 718 bahasa daerah, Indonesia disebutnya sebagai salah satu pusat peradaban tua dunia. Pengakuan internasional terhadap kekayaan budaya Indonesia pun terus bertambah.
“Jurnal Nature baru-baru ini menyebut lukisan figuratif tertua di dunia berada di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa peradaban kita memiliki jejak budaya yang sangat kuat dan diakui dunia,” ungkap Fadli.
Ia menegaskan, amanat konstitusi mengharuskan negara tidak hanya melindungi dan mengembangkan kebudayaan, tetapi juga memanfaatkannya secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat. Di titik inilah ekonomi budaya dan industri kreatif memegang peranan penting.
Fadli pun mendorong keterlibatan aktif dunia usaha dan sektor swasta, baik melalui skema filantropi maupun dukungan pengelolaan museum dan cagar budaya, sebagaimana lazim diterapkan di berbagai negara.
Di sisi lain, Fadli mengingatkan bahwa kebudayaan bukan semata urusan ekonomi. Budaya adalah perekat bangsa dan kekuatan identitas nasional yang menjaga Indonesia tetap utuh dalam keberagaman. Dan, Ia juga mengajak, seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung pemajuan kebudayaan nasional, seiring berdirinya Kementerian Kebudayaan di era Presiden Prabowo Subianto sebagai penegasan komitmen negara dalam memajukan budaya Indonesia di panggung dunia.
(*/Oby/Mii)

