Suarastra.com – Peringatan Hari Musik Nasional 2026 menjadi momentum untuk menegaskan kembali kekuatan musik Indonesia sebagai identitas budaya sekaligus potensi besar dalam industri kreatif. Hal itu disampaikan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, saat menghadiri peringatan Hari Musik Nasional yang digelar Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) di Gedung Negara Provinsi Banten, pada Senin (09/03/26).
Menurut Fadli Zon, Indonesia memiliki kekayaan musik yang sangat besar, mulai dari tradisi hingga kontemporer. Keragaman tersebut lahir dari latar budaya Nusantara yang sangat luas.
Ia menyebutkan, dengan jumlah mencapai 1.340 suku bangsa serta ratusan alat musik tradisional, Indonesia memiliki modal budaya yang kuat untuk mengembangkan musik sebagai kekuatan nasional.
“Musik Indonesia, mulai dari tradisi hingga kontemporer, memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Kita berharap ekosistemnya semakin baik melalui kolaborasi antara musisi, seniman, budayawan, dan pemerintah di berbagai tingkat,” ujar Fadli Zon dalam keterangan tertulis yang dikutip dari Detiknews, Selasa (10/03/26).
Ia menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk memperkuat posisi musik Indonesia, baik di dalam negeri maupun di panggung internasional. Menurutnya, musik dapat menjadi salah satu instrumen diplomasi budaya Indonesia di dunia.
Fadli menilai sejumlah musisi Indonesia telah berhasil membawa karya mereka ke panggung global, membuka peluang bagi lahirnya gelombang baru musik Indonesia di kancah internasional.
“Kita berharap musik Indonesia dapat menjadi salah satu frontliner kebudayaan di dunia internasional. Seperti negara lain yang menggunakan musik sebagai soft power, kita juga berharap muncul ‘Indonesian wave’ atau gelombang Indonesia dari musik kita,” tuturnya.
Dalam upaya menjaga keberlanjutan musik tradisi, pemerintah juga terus memberikan perhatian melalui berbagai program, salah satunya Manajemen Talenta Nasional. Program ini diharapkan mampu mendorong regenerasi sekaligus memperkuat posisi musik tradisional sebagai bagian penting dari identitas budaya bangsa.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, turut menyampaikan sambutan melalui tayangan video. Ia menilai Hari Musik Nasional menjadi momentum strategis untuk memperkuat identitas musik Indonesia sekaligus memperluas pengaruhnya di tingkat global.
Menurutnya, kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia berpadu dengan kreativitas generasi muda dapat menjadi kekuatan besar dalam sektor ekonomi kreatif.
“Musik Indonesia memiliki kekayaan budaya, kreativitas, dan energi generasi muda yang luar biasa untuk menjadi kekuatan ekonomi kreatif sekaligus soft power di dunia,” ujar Teuku Riefky Harsya.
Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa musik tidak hanya menjadi ekspresi budaya dan kreativitas, tetapi juga memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian nasional.
Menurutnya, pemerintah berkomitmen mendorong terciptanya ekosistem industri kreatif yang profesional dan inklusif, sekaligus memastikan para pekerja di sektor musik mendapatkan perlindungan ketenagakerjaan serta jaminan sosial yang layak.
“Musik bukan hanya ekspresi budaya dan kreativitas, tetapi juga bagian penting dari ekonomi kreatif yang memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat,” kata Yassierli.
Sementara itu, Ketua Umum PAPPRI Tony Wenas menjelaskan bahwa gagasan Hari Musik Nasional pertama kali diinisiasi oleh PAPPRI pada 1997. Setelah melalui proses panjang, usulan tersebut akhirnya ditetapkan secara resmi melalui Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013.
Menurutnya, peringatan Hari Musik Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum untuk merawat identitas budaya sekaligus memperkuat ekosistem industri musik nasional.
“Melalui Nada Nusantara, kita berharap dapat mengirimkan resonansi Indonesia ke seluruh dunia,” ujar Tony Wenas.
Rangkaian kegiatan peringatan Hari Musik Nasional 2026 juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni dan musik. Di antaranya penampilan grup musik SNADA dan penyanyi Ita Purnamasari. Acara kemudian ditutup dengan tausyiah dan doa bersama yang diiringi lantunan shalawat Terebeng Gede, salah satu kesenian tradisional khas Banten.
(Oby)

