Suarastra.com – Budaya membaca dinilai tidak bisa tumbuh secara instan, tetapi perlu ditanamkan sejak dini dari lingkungan keluarga. Pandangan itu disampaikan Putri sulung Wakil Presiden RI ke-13 Ma’ruf Amin, Siti Ma’rifah, saat berbicara dalam peluncuran bedah buku dan seminar literasi nasional bertajuk “Bersama Kutubuku: Mengunyah Buku, Melahap Ilmu” di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, pada Rabu (28/1/26).
Siti Ma’rifah menekankan bahwa keluarga memiliki posisi strategis sebagai fondasi awal pembentukan karakter literat. Di tengah dominasi teknologi digital, menurutnya, keluarga perlu menjadi contoh nyata agar kebiasaan membaca dan menulis tetap hidup di generasi muda.
“Minat baca itu bisa dimulai dari rumah. Keluarga menjadi role model, terutama bagi generasi Milenial, Generasi Z, dan Generasi Alpha. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak terpisahkan, karena dari situlah lahir tokoh-tokoh hebat. Buku tetap menjadi jendela dunia,” ujarnya.
Ia menilai pendekatan konvensional dalam mendorong literasi perlu diperbarui agar selaras dengan perkembangan zaman. Salah satu gagasan yang ia dorong adalah menjadikan membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan dan bernilai rekreasi.
“Membaca harus dikemas seperti wisata. Wisata bukan hanya soal tempat indah, tetapi juga pengalaman. Ke depan, perlu ada ruang-ruang wisata buku, literasi, atau wisata membaca yang menarik dan relevan dengan era digital, sehingga generasi muda merasa dekat dan tertarik,” paparnya.
Tak hanya keluarga dan institusi pendidikan, Siti Ma’rifah juga menyoroti peran sektor korporasi dalam menumbuhkan budaya literasi. Ia menyebut dunia kerja dapat menjadi ruang strategis untuk membiasakan membaca dan menulis melalui program-program kreatif.
“Di lingkungan perusahaan, kami membiasakan menulis dan membaca, bahkan melahirkan buku. Ada juga program CEO mengajar, agar ilmu tidak hanya disimpan, tetapi diaplikasikan. Jika membaca dan menulis menjadi lifestyle, maka dampaknya akan terasa dalam pembangunan peradaban,” tuturnya.
Dalam kegiatan tersebut, Siti Ma’rifah juga diketahui menjadi salah satu kontributor buku “Kutubuku”. Gagasannya dirangkai bersama pemikiran empat penulis lainnya, yakni Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Komaruddin, Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Joko Santoso, Cendekiawan STIAMI Antoni Ludfi Arifin, serta dosen dan penulis Joko Nugroho.
(*/Oby/Mii)

