Suarastra.com – Di banyak kampung pada masa lalu, petuah orang tua sering kali terdengar seperti dongeng yang menakut-nakuti, padahal di baliknya tersimpan ajaran halus tentang hidup yang tertib. Salah satu nasihat yang paling sering didengar anak-anak zaman dulu adalah :
“Jangan buka payung di dalam rumah, nanti rezekimu lari.”
Bagi anak-anak, larangan itu terasa aneh. Bagaimana mungkin sebuah payung, benda yang bahkan tidak hidup bisa membuat rezeki kabur seperti burung yang terkejut? Namun begitulah cara orang tua menanamkan rasa hati-hati pada anak mereka.
Dalam kehidupan tradisional, rumah adalah ruang yang dijaga kesuciannya. Tempat keluarga berkumpul, tempat doa dinaikkan, tempat ingatan dan harapan dijaga. Membuka payung di dalam rumah dianggap sebagai tindakan yang melawan adat, seolah menghadirkan “naungan” lain di bawah atap sendiri. Payung itu, dalam tata krama lama, digunakan hanya ketika menghadapi hujan, panas, dan angin di luar rumah, benda yang bersentuhan dengan kotoran dan debu dunia luar.
Maka, membuka payung di dalam rumah dipandang sebagai perbuatan tidak pantas, seakan membawa keburukan dari luar, dan menodai ketenteraman ruang keluarga. Demi membuat anak-anak patuh, muncullah petuah yang diselubungi ancaman halus.
Tentu saja, tidak ada bukti bahwa payung bisa mengusir rezeki. Tetapi petuah itu bekerja seperti pagar tak terlihat. Ia mengajarkan anak-anak agar menghormati rumah, agar tidak sembarangan memperlakukan benda, dan agar memahami batas antara “luar” dan “dalam” antara dunia yang keras dan rumah yang harus dijaga ketenteramannya.
Kini, ketika banyak petuah lama perlahan memudar, sebagian orang masih mengingat kata-kata itu. Bukan karena mereka takut rezeki benar-benar hilang, tetapi karena mereka tahu:, di balik larangan membuka payung di dalam rumah, tersimpan ajaran tentang kesopanan, kebersihan, dan hormat pada ruang yang kita sebut rumah, ajaran yang tak pernah lekang oleh waktu.
#Avisapranatungga

