“Jangan makan di tengah pintu, nanti jodohnya jauh,” tutur orang tua tempo dulu.
Bagi mereka, pintu bukan sekadar celah kayu untuk keluar dan masuk rumah. Pintu adalah batas dunia, tempat segala yang baik dan buruk bersilang jalan. Di sanalah rezeki masuk, doa keluar, dan nasib berhembus pelan bersama angin yang melintas.
Makan di tengah pintu berarti menghalangi jalan berkat. Seolah tanganmu menutup arus rezeki yang hendak singgah, dan langkahmu menghalangi tamu baik yang mungkin datang membawa kabar gembira. Maka orang tua dahulu menegur dengan lembut, bukan dengan amarah, tapi dengan petuah yang berselimut makna,
“Jodohmu akan jauh, rezekimu akan lambat datang,” ucap mereka yang biasa kita dengar dengan nada lembut, tapi kaya akan makna.
Padahal di balik tutur itu, tersimpan kebijaksanaan sederhana.
Makan di tengah pintu bisa membuat makanan tumpah, menghalangi orang lewat, atau membuat tuan rumah tampak tidak sopan di hadapan tamunya.
Maka jadilah petuah itu sebuah pamali bukan semata larangan, tapi cara halus untuk mengajarkan sopan santun dan tata hidup.
Demikianlah ajaran lama, setiap larangan bukan sekadar mengekang, tetapi menjaga harmoni antara manusia, rumah, dan dunia yang tak tampak.
Sebab, kata orang bijak,
“Siapa yang menjaga adabnya, maka dekatlah segala yang jauh, termasuk jodoh yang telah ditulis di langit,”
#Avisapranatungga

