Suarastra.com – Menjelang penghujung tahun 2025, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) meresmikan jembatan penghubung antara Jalan Kartini menuju Monumen Barat di kawasan Masjid Agung Sultan Sulaiman, Tenggarong, yang dinamai “Jembatan Kedaton Agung”. Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, didampingi Sultan Kutai Aji Muhammad Arifin, pada Selasa (23/12/2025).
Jembatan ini dibangun sebagai pengganti Jembatan Besi yang selama puluhan tahun menjadi ikon Kota Tenggarong. Proses pembangunannya sempat menuai perhatian publik karena Jembatan Besi memiliki nilai sejarah dan berstatus sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Pemerintah daerah akhirnya memilih membangun jembatan baru, sementara jembatan lama akan direnovasi dan dialihfungsikan.
Pembangunan jembatan penghubung tersebut dikerjakan oleh kontraktor PT Putra Nanggroe Aceh dengan supervisi dari PT Celebes Sarana Jasa. Proyek ini mulai dikerjakan secara resmi sejak April 2025 lalu dan kini telah rampung serta siap dimanfaatkan masyarakat.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri menegaskan, jembatan ini tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur penghubung, tetapi juga disiapkan sebagai bagian dari pengembangan kawasan wisata Kota Tenggarong.
“Jembatan ini bukan hanya akan menjadi jalur transportasi yang penting bagi masyarakat kita, tapi Insya Allah juga akan menjadi titik destinasi wisata baru di Kota Tenggarong. Apalagi ke depan, taman-taman baru juga akan hadir di kawasan ini,” ujar Aulia dalam sambutannya.
Ia menyebutkan, keberadaan jembatan ini akan mendukung berbagai aktivitas publik, termasuk pelaksanaan Car Free Day yang diproyeksikan semakin ramai dengan hadirnya ruang-ruang publik baru di sekitarnya.
“Untuk itu, sekali lagi kita perlu menjaga, merawat, dan memelihara jembatan ini dengan sebaik-baiknya,” ucapnya.
Tak hanya itu, Aulia juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama membangun citra Tenggarong sebagai kota tujuan wisata yang ramah, aman, dan nyaman. Menurutnya, kesan positif wisatawan menjadi kunci agar Tenggarong semakin dikenal luas di luar daerah.
“Jadikan setiap pengunjung yang datang ke Tenggarong pulang membawa kesan dan cerita yang indah. Sebagai tuan rumah, kita harus ramah dan menjaga kenyamanan tamu-tamu kita,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pengembangan infrastruktur perkotaan, termasuk jembatan ini, akan berdampak langsung pada perputaran ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Jembatan Kartini–Monumen Barat juga diproyeksikan menjadi akses strategis menuju Pasar Tangga Arung, pasar tradisional yang kini disulap menjadi pasar semi modern. Pemerintah daerah telah menyiapkan 703 kios di kawasan tersebut untuk mendukung aktivitas perdagangan masyarakat.
“Jembatan ini segera kita gunakan karena akan menunjang mobilitas masyarakat menuju pasar baru. Ada 703 kios yang kita setting menjadi pasar semi modern atau semi mall,” pungkas Aulia.
(Oby/Mii)

