“Makan jangan di depan pintu, rezeki bisa berhenti di tengah jalan,”
begitulah petuah yang kerap diucapkan orang tua zaman dulu, terdengar sederhana namun penuh peringatan.
Larangan itu sejatinya bukan sekadar soal rezeki yang tersendat, melainkan cara halus orang tua mengajarkan adab. Pintu adalah jalan keluar-masuk rumah, tempat orang berlalu-lalang membawa urusan dan keperluan. Duduk makan di sana dianggap tidak tertib, menghalangi langkah, dan mudah menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain.
Selain itu, makan di depan pintu juga dipercaya dapat mengundang iri. Makanan yang terlihat jelas oleh orang yang lewat terutama mereka yang kekurangan dianggap tidak elok dipamerkan. Orang tua dahulu sangat menjaga perasaan sesama, agar rezeki yang dinikmati tidak melukai hati orang lain.
Maka petuah itu diwariskan turun-temurun, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membentuk sikap: makanlah dengan tenang, di tempat yang pantas, dengan rasa syukur. Karena bagi orang-orang lama, rezeki tidak hanya tentang apa yang dimakan, tetapi juga tentang bagaimana cara menikmatinya.
#Avisapranatungga

