Suarastra.com – Di kampung-kampung tempo dulu, nasihat yang terdengar sederhana sering kali menyimpan makna yang jauh lebih dalam dari kata-katanya. Salah satunya adalah petuah yang kerap diucapkan para orang tua kepada anak-anak mereka:
“Jangan bernyanyi saat mandi, nanti jodohnya jauh.”
Bagi anak-anak, larangan itu terdengar aneh. Apa salahnya bersenandung sambil menyiram tubuh? Bukankah air mengalir, hati pun sedang riang?
Namun bagi orang tua zaman dahulu, nasihat itu bukan sekadar ancaman tanpa makna. Ia adalah pelajaran halus tentang adab, kesadaran diri, dan cara memuliakan diri sendiri.
Dalam pandangan hidup orang-orang lama, mandi bukan hanya kegiatan membersihkan badan. Mandi adalah saat seseorang menanggalkan kotoran, letih, dan beban pikiran. Ia adalah momen peralihan dari kusam menuju bersih, dari resah menuju tenang. Sebuah waktu sunyi untuk merapikan diri, lahir dan batin.
Bernyanyi saat mandi dianggap sebagai tanda bahwa seseorang terlalu larut dalam kegembiraan dirinya sendiri, hingga lupa bahwa ia sedang berada di hadapan proses penyucian. Bukan karena suaranya salah, melainkan karena mandi dipandang sebagai saat untuk merendahkan hati, menenangkan jiwa, dan menyadari bahwa tubuh ini sedang dirawat, bukan dipamerkan keriangannya.
Lalu mengapa dikaitkan dengan “jodoh yang jauh”?
Karena orang-orang tua percaya, siapa yang tidak mampu menghormati dirinya sendiri dalam perkara kecil, kelak akan sulit dihormati dalam perkara besar. Dan jodoh, dalam pandangan lama, bukan hanya tentang pertemuan dua insan, tetapi tentang kesiapan batin, ketenangan jiwa, dan kematangan diri.
Maka lahirlah larangan yang dibungkus dengan kalimat sederhana:
“Jika engkau tak menjaga adab pada dirimu sendiri, jalan hidupmu pun akan berjalan menjauh.”
Mungkin memang tidak ada hubungan langsung antara bernyanyi dan jauhnya jodoh. Namun petuah itu bekerja seperti pagar halus yang menanamkan rasa sadar diri, rasa hormat pada proses, dan kebiasaan untuk menempatkan ketenangan di atas keriuhan.
Dan hingga kini, petuah itu masih hidup di ingatan banyak orang bukan karena takut jodohnya benar-benar menjauh, melainkan karena mengerti, di balik larangan sederhana itu, tersimpan ajaran tentang adab yang menumbuhkan kematangan jiwa.
#Avisapraantungga

