Suarastra.com – Sejauh mata memandang di area Museum Lesong Batu, Kecamatan Muara Kaman, ada getar yang berbeda, bukan hanya derap pengunjung atau bunyi alat pamer, melainkan upaya sadar untuk membangunkan ingatan kolektif masyarakat tentang prasasti yupa atau benda batu yang menandai kelahiran peradaban awal di Nusantara. Festival Memory of Yupa digelar selama tiga hari, 17–19 November 2025, oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Diarpus) Kutai Kartanegara (Kukar) sebagai ruang pertemuan antara sejarah, komunitas, dan masa depan arsip.
Festival itu bukan sekadar pameran. Di antara instalasi, dialog publik, dan lokakarya pendidikan, terselip pesan besar, bagaimana sebuah prasasti yang ditulis dalam bahasa Sanskerta dan aksara Pallava oleh kaum Brahmana mampu menjembatani kisah lokal, sehingga memperlihatkan bahwa kontak budaya dan pembentukan negara di wilayah ini telah berlangsung berabad-abad lalu. Yupa dari Muara Kaman sering disebut sebagai salah satu bukti tertulis tertua di Nusantara dan menjadi rujukan penting bagi penulisan sejarah awal Indonesia.
Dalam helatan tersebut, Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, menghadiri secara langsung acara yang di gelar pertama kali di area Museum Lesong Batu itu. Ia merasa kagum dan sangat mengapresiasi kepada Diarpus Kukar, karena telah membuat kegiatan yang sangat positif dan edukatif.
“Kegiatan malam ini meriah dan pertama kali digelar oleh teman-teman Diarpus Kukar. Saya bilang ini sukses karena banyak hal yang diangkat, dengan memory of yupa ini mengajak kita untuk kembali mengingat sejarah yang berada di Muara Kaman,” ujar Rendi saat diwawancarai awak media, pada Senin (17/11/2025).
Tak hanya itu, Rendi bilang, Festival Memory Of Yupa 2025 ini jangan dilihat sebagai kegiatan seremonial saja, melainkan sebagai pengingat akan kelimpahan budaya yang dimiliki di Kabupaten Kukar, yang harus kita jaga dan kita gali lebih dalam lagi. Dan, ia juga menuturkan, selain kaya akan sumber daya alam, Kukar memiliki potensi besar lainnya seperti dalam sektor pariwisata wisata, yaitu religi dan sejarah.
“Harapannya, orang luar saja berkunjung ke sini menjaga tempat ini dengan baik, masa kita orang sini tidak menjaga dengan baik. Jaga semua tempat serta cagar budaya yang berada di Kukar,” tegasnya.
“Festival ini sebagai bagian penting dari visi dan misi Kukar Idaman Terbaik, khususnya dalam penguatan kebudayaan,” timpal Rendi.

Sementara itu, Kepala Dewan Pakar Memory of the World (MOW), Mukhlis Paeni, memberikan penegasan yang lebih luas mengenai posisi Yupa dalam lintasan sejarah bangsa.
“Melakukan kajian, penelitian, dan pengamatan terhadap warisan-warisan budaya yang akan dijadikan sebagai memori kolektif bangsa,” katanya saat memaparkan dua lingkup besar kerja lembaga terkait arsip dan literasi nasional.
Mukhlis menjelaskan bahwa festival ini adalah bagian dari dua agenda penting: mengusulkan arsip-arsip preservasi proses dari Jepang menjadi memori kolektif bangsa dan mendorong prasasti Yupa agar diakui UNESCO sebagai Memory of the World. Proses pengakuan sebagai cagar budaya sudah selesai, namun isi Yupa-lah yang kini menjadi pekerjaan besar bersama.
“Pertanyaannya, apakah isi itu mempunyai dampak besar terhadap perkembangan masyarakat setelah ribuan tahun sekitar 1400 tahun yang lalu? Apakah masih mempunyai dampak pada masyarakat sekarang?” ujarnya.
Ia menekankan bahwa Yupa bukan sekadar artefak, melainkan penanda harga diri dan marwah bangsa.
“Prasasti itu adalah tonggak-tonggak dari keberlangsungan bangsa kita, yang mempunyai garis keterhubungan dengan masyarakat yang ada sekarang,” tegasnya.
Mukhlis memastikan bahwa Arsip Nasional mendukung penuh agar Yupa dapat ditetapkan sebagai memori kolektif bangsa sekaligus Memory of the World oleh UNESCO.
Disisi lain, Ptl Kepala Diarpus Kukar, Rinda Desianti, pun ikut menjelaskan bahwa festival ini merupakan bagian dari proses panjang untuk mencatatkan Yupa dalam ingatan kolektif nasional. Dan, Ia juga menegaskan, bahwa perjalanan sejarah Yupa adalah perjalanan panjang peradaban, yang beranjak dari Muara Kaman hingga kawasan Kelamasi.
“Dari Muara Kaman sampai kini kita seperti abai. Mudah-mudahan dari MOW, dari MKB, atau kegiatan ini bisa mengubah semangat kita untuk kembali mempelajari dan menghargai sejarah serta kebudayaan yang ada,” katanya.
Lebih lanjut, Rinda juga menyampaikan, bahwa Yupa telah didaftarkan sebagai Memory of the World dan memori kolektif bangsa. Namun ia berharap festival ini berkembang tiap tahun, tidak hanya dalam aspek sejarah, tetapi juga kuliner, tari, pakaian, hingga narasi budaya lain dari Kutai Kartanegara.
“Untuk upaya yang dilakukan memperkenalkan lagi Yupa di dunia, ini sudah didaftarkan ke UNESCO. Saya berharap setiap tahun ada hal-hal, bukan hanya dari sisi sejarah, tapi juga bisa dari makanan, tari, pakaian, yang kemudian bisa menjadi perjalanan Kutai Kartanegara dalam mengisi Memory Kolektif Bangsa,” ujarnya.
Festival Memory of Yupa 2025 bukan sekadar rangkaian acara budaya. Ia adalah upaya membangkitkan ingatan panjang peradaban, meneguhkan kembali identitas, dan menyiapkan masyarakat Kukar untuk berdiri lebih percaya diri dalam percakapan sejarah dunia. Prasasti tua itu kembali bersuara, dan masyarakatlah yang kini belajar mendengarnya kembali.
(ADV/Oby/Mii)

