Suarastra.com – Upaya pemerataan akses digital di Kutai Kartanegara (Kukar) semakin nyata. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar menargetkan seluruh desa di wilayahnya sudah terkoneksi jaringan internet gratis paling lambat tahun 2026.
Program bertajuk Internet Desa Gratis itu menjadi bagian dari agenda besar “Kukar Idaman Terbaik” yang digagas Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, untuk memastikan tidak ada lagi wilayah yang tertinggal dalam hal konektivitas dan literasi digital.
“Program ini memastikan seluruh desa memiliki akses internet. Anggarannya sudah kita siapkan, hanya tinggal menyusun kebijakan dan menyesuaikan dengan kondisi teknis di lapangan,” ujar Aulia, pada Selasa (11/11/2025).
Ia menegaskan, internet kini bukan lagi sekadar fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan dasar bagi masyarakat. Mulai dari dunia pendidikan, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi warga desa, semuanya menuntut koneksi digital yang memadai.
Namun, Aulia juga tidak menutup mata terhadap tantangan teknis di lapangan. Salah satunya terkait layanan Starlink yang sebelumnya digunakan di Desa Sungai Bawang, Kecamatan Anggana. Saat ini, layanan kategori rumah tangga dari Starlink sudah tidak lagi tersedia.
“Kami sedang berdiskusi dengan pihak provider untuk mencari solusi alternatif. Kalau Starlink tidak bisa, kita akan cari penyedia lain yang mampu menjangkau hingga ke pelosok,” terangnya.
Selain menjangkau seluruh desa, program ini juga akan diintegrasikan dengan dana Rp150 juta per RT. Dengan begitu, setiap RT di Kukar bisa memiliki sistem internet mandiri yang disesuaikan dengan jumlah warga dan kebutuhan koneksi.
“Satu RT rata-rata memiliki 50 sampai 300 kepala keluarga. Dengan skema ini, setiap RT bisa memiliki akses dan berlangganan sesuai kebutuhan mereka,” jelas Bupati.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kukar, Solihin, melalui Kabid Aplikasi dan Informatika Ery Hariyono menyampaikan, saat ini pihaknya tengah menuntaskan tahap awal berupa pemetaan digital di seluruh desa.
“Kita harus presisi sejak awal. Kondisi tiap desa berbeda, bahkan di wilayah perkotaan pun masih ada yang sinyalnya tidak stabil, terutama di daerah perbukitan,” ujar Ery.
Ia menambahkan, hasil pemetaan tersebut akan menjadi dasar bagi pelaksanaan program tahun 2026 agar distribusi perangkat dan jaringan bisa tepat sasaran.
“Tahun ini pemetaan, tahun depan implementasi. Harapannya, tidak ada lagi warga Kukar yang kesulitan akses internet,” pungkasnya.
(ADV/Oby/Mii)

