Suarastra.com – Di tepian Danau Jempang yang teduh, Desa Tanjung Isuy bersiap menyambut sebuah perayaan yang lebih dari sekadar pesta budaya. Pesta Sua Doyo 2025, yang akan digelar pada 24 hingga 26 November mendatang, bukan hanya menampilkan tari, musik, dan pameran. Ia adalah perwujudan dari napas hutan, ingatan leluhur, serta tekad masyarakat Dayak Benuaq untuk menjaga jati diri mereka di tengah arus perubahan zaman.
Dari hutan Kalimantan yang sunyi, tumbuh daun doyo atau tanaman liar yang memiliki serat kuat dan lentur. Melalui tangan perempuan Dayak Benuaq, daun ini bereinkarnasi menjadi Ulap Doyo, kain tenun yang hidup dan sarat makna. Dari proses pemintalan, pewarnaan alami, hingga lahirnya motif-motif khas, setiap helai benang Ulap Doyo menyimpan pesan ekologis: jika Ulap Doyo berhenti lahir, artinya hutan sudah berhenti bernapas.
Di setiap simpulnya, tersimpan bahasa yang tak terucap seperti bahasa alam yang hanya bisa dibaca oleh hati yang masih berpihak pada kehidupan. Bagi masyarakat Dayak Benuaq, Ulap Doyo bukan sekadar kain. Ia adalah jembatan antara bumi dan manusia, antara masa silam dan masa depan.
Namun, kini tanda-tanda kehilangan mulai terasa. Daun doyo yang dahulu tumbuh liar di sekitar pemukiman Dayak Benuaq, termasuk di Tanjung Isuy, kini kian sulit ditemukan. Perambahan hutan, penebangan liar, dan alih fungsi lahan menjadi tambang serta perkebunan sawit membuat tumbuhan ini enggan tumbuh. Alam seolah berpesan,
“Aku hanya ingin hidup bersama keragaman hayati yang saling memberi makan, bukan dengan monokultur yang rakus akan ruang dan kehidupan.”
Sulitnya mendapatkan daun doyo berimbas pada menurunnya produksi kain Ulap Doyo. Akibatnya, minat generasi muda untuk meneruskan tradisi menenun pun kian berkurang. Kini, keterampilan menenun lebih banyak ditekuni oleh perempuan berusia di atas 40 tahun.
Generasi muda Dayak Benuaq, yang dahulu belajar menenun sejak kecil, perlahan beralih ke pekerjaan lain. Jika keadaan ini terus dibiarkan, bukan hanya keterampilan yang hilang, tapi juga jati diri dan pengetahuan leluhur yang selama ini menjadi penopang kebudayaan Dayak Benuaq.
Dalam kehidupan masyarakat Tanjung Isuy, Ulap Doyo memiliki peran yang amat penting. Ia menjadi bagian dari mahar pernikahan, digunakan dalam upacara adat, serta menjadi simbol kehormatan dan hubungan spiritual dengan leluhur.
Seorang perempuan yang mahir menenun Ulap Doyo dianggap telah matang secara sosial dan spiritual, siap membangun rumah tangga. Menenun, bagi mereka, adalah bentuk kedewasaan, kesabaran, dan tanggung jawab dengan nilai-nilai yang mengikat tatanan adat Dayak Benuaq sejak dahulu kala.
Atas dasar inilah, Pesta Sua Doyo 2025 hadir sebagai ruang untuk merayakan sekaligus merenungi hubungan antara budaya, hutan, dan masa depan. Dengan mengusung tema “Budaya, Hutan dan Masa Depan,” perayaan ini menjadi ajang untuk menegaskan bahwa pelestarian alam dan budaya tak dapat dipisahkan.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Desa Budaya Tanjung Isuy dan Komunitas Tiaq Egah, dengan dukungan dari Direktorat Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, melalui program Pemajuan Kebudayaan Desa.
Rangkaian kegiatan yang disajikan akan menyentuh rasa dan menggugah kesadaran. Mulai dari Tarian Penyambutan Ngelewai Massal, Panggung Busana Doyo, Arak-arakan menuju Lamin Adat Tumenggung Marta, hingga upacara penyambutan adat Suku Dayak Benuaq. Selain itu, akan digelar pertunjukan Drama Tari Sua Doyo, Wisata Perjalanan Budaya Doyo (Telling Story), Sarasehan dan Diskusi Doyo, serta pemutaran film dokumenter “Daya Doyo.” Tak ketinggalan, pertunjukan musik tradisional, pameran foto dan produk Doyo, bazar, serta kuliner tradisional yang menampilkan kekayaan cita rasa lokal.
Lebih dari sekadar perayaan budaya, Pesta Sua Doyo 2025 diharapkan menjadi ruang pembelajaran lintas generasi. Melalui kegiatan ini, generasi muda diajak memahami bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan, dan menenun Ulap Doyo berarti menenun masa depan.
Pesta ini juga menjadi ajang kolaborasi lintas bidang antara masyarakat adat, seniman, peneliti, pelaku ekonomi kreatif, dan pemerintah. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal, sekaligus promosi pariwisata berbasis hutan dan kearifan lokal.
Pada akhirnya, dari Desa Tanjung Isuy yang sederhana, lahirlah pesan besar bagi dunia: pelestarian budaya tidak bisa dipisahkan dari pelestarian alam. Sebab, di setiap helai Ulap Doyo, tersimpan doa agar hutan tetap bernapas dan selama hutan masih bernapas, Dayak Benuaq akan terus menenun masa depannya.
(*/Oby)

