Suarastra.com – Dari kejauhan, bangunan kayu itu tampak biasa saja. Memanjang, berdiri di atas tiang, tanpa ukiran mencolok dan tanpa warna-warna berani seperti rumah adat lain di Borneo. Namun di balik kesederhanaannya, Lamin Tolan menyimpan identitas kultural yang dalam, mengakar, dan tak tercerabut oleh waktu.
Rumah panjang atau Lamin itu terletak di daerah yang bernama Tolan tepatnya diwilayah Kampung Lambing, Kecamatan Muara Lawa, Kabupaten Kutai Barat (Kubar). Lamin Tolan, menurut masyarakat di sana bukan hanya bangunan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, tetapi ia adalah pusat hidup.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan pola hunian masyarakat adat di Kalimantan Timur (Kaltim), keberadaan Lamin Tolan yang telah berdiri kurang lebih hampir 200 tahun lamanya menjadi fenomena yang menarik perhatian. Saat banyak rumah adat bertransformasi menjadi simbol wisata atau ornamen budaya, Lamin Tolan tetap berdiri sebagai ruang hidup yang fungsional dan sakral.
Bangunan ini tidak menghadirkan kemegahan visual. Tidak ada ukiran naga, burung enggang, atau motif-motif penuh simbol kosmologis seperti pada lamin lain di Kalimantan. Justru di sanalah letak perbedaannya.
Kesederhanaan Lamin Tolan bukanlah kekurangan estetika, melainkan cerminan pandangan hidup.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal akademik UINSI Samarinda mengungkap bahwa struktur Lamin Tolan merepresentasikan nilai kesahajaan, kolektivitas, dan relasi harmonis dengan alam. Material kayu yang digunakan diambil dari hutan sekitar, tiang-tiangnya menopang bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga sistem sosial yang komunal.
Di dalam satu bangunan panjang itu, beberapa keluarga hidup berdampingan. Tidak ada sekat tebal yang memisahkan jarak batin. Ruang menjadi medium interaksi, tempat berbagi cerita, merawat tradisi, dan menyelenggarakan ritual adat.
Di sanalah anak-anak belajar tentang asal-usulnya. Di sanalah tetua adat menuturkan kisah leluhur.
“Rumah ini bukan sekadar tempat tinggal. Ini tempat kami berkumpul, bermusyawarah, dan melaksanakan upacara adat. Kalau lamin hilang, hilang juga sebagian dari diri kami,” demikian salah satu penuturan warga dalam penelitian tersebut.
Lamin Tolan juga menjadi ruang sakral bagi pelaksanaan ritual adat. Upacara-upacara penting, mulai dari syukuran panen hingga ritus kematian, dilakukan di dalamnya. Bangunan itu menjadi saksi perjalanan hidup manusia, dari lahir hingga kembali ke tanah.
Lebih jauh, struktur tanpa ornamen justru memperlihatkan filosofi mendalam. Masyarakat Dayak Benuaq Tengah memandang kehidupan sebagai sesuatu yang tidak perlu ditampilkan secara berlebihan. Kesederhanaan adalah kebijaksanaan. Fungsi lebih utama daripada rupa.
Nilai ini tercermin dalam keseharian mereka: bercocok tanam, berburu, memanfaatkan hasil hutan secukupnya. Lamin Tolan berdiri sebagai metafora cara hidup itu yang kuat, fungsional, dan menyatu dengan lingkungan.
Jika dilihat lebih dalam, Lamin Tolan adalah lapisan bawah dari gunung es kebudayaan. Yang tampak hanyalah bangunan kayu panjang. Namun di bawahnya tersimpan sistem nilai seperti, solidaritas komunal, penghormatan pada alam, serta struktur sosial yang kolektif.
Ia menjadi identitas yang hidup, bukan simbol yang dibekukan.
Di tengah tantangan zaman, identitas kultural seperti Lamin Tolan menghadapi ujian. Modernisasi, perubahan tata ruang desa, hingga pergeseran pola hunian individu berpotensi mengikis fungsi rumah panjang. Namun selama nilai-nilai komunal itu tetap dipertahankan, Lamin Tolan tidak akan sekadar menjadi artefak.
Ia akan terus menjadi jantung kehidupan.
Sebab pada akhirnya, identitas bukan hanya tentang bentuk fisik yang terlihat. Ia adalah ingatan kolektif, nilai yang diwariskan, dan ruang yang menjaga kebersamaan.
Dan di Kutai Barat, di tengah hutan dan aliran sungai yang tenang, Lamin Tolan masih berdiri diam, namun penuh makna.
Sumber : NUBUWWAH Journal of Communication and Islamic Broadcasting
Judul Artikel : Lamin Tolan Sebagai Identitas Kultural Masyarakat Dayak Benuaq di Kampung Lambing, Kecamatan Muara Lawa, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur
(Oby)

