Suarastra.com – Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi sorotan salah satu lokasi proyek strategis untuk pengembangan sektor peternakan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Proyek ini digadang-gadang akan menghadirkan dua fasilitas utama yang menjadi penopang kemandirian peternakan di daerah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Rifani, menyebutkan dua fasilitas yang akan dibangun yakni hatchery (R-seri) dan parent stock.
“Jadi kemungkinan nanti kita akan mendapatkan dua bangunan peternakan, yaitu hatchery sebagai tempat penetasan dan parent stock sebagai pusat pembibitan ayam,” ujar Rifani di Kantor Distanak Kukar, pada Rabu (01/04/26).
Hatchery akan menjadi pusat penetasan telur ayam, sementara parent stock berfungsi sebagai tempat pembibitan yang nantinya menghasilkan anakan ayam siap salur ke peternak. Kedua fasilitas ini diharapkan mampu memperkuat rantai produksi peternakan di Kukar.
Ia mengungkapkan, awalnya proyek tersebut dialokasikan untuk Kabupaten Paser. Namun, usulan tersebut gugur karena tidak dilengkapi data spasial yang memadai. Sebaliknya, Kukar dinilai lebih siap karena mampu menyajikan data lengkap.
“Kita melengkapi mulai dari morfologi lahan, topografi, kajian tata ruang, hingga legalitas lahan. Semua itu sudah kita sampaikan, sehingga Kukar yang terpilih,” jelas Rifani.
Meski demikian, proyek ini juga tersebar di beberapa daerah lain dengan bentuk berbeda. Penajam Paser Utara (PPU) akan mendapatkan pabrik pakan, sementara Kota Samarinda memperoleh fasilitas pembekuan daging.
Untuk Kukar, lokasi yang diusulkan berada di Desa Lebaho Ulaq, di jalur poros, dengan luas lahan sekitar 100 hektare. Luasan ini dinilai memenuhi syarat minimal dari pemerintah pusat yang membutuhkan sekitar 50 hektare, dengan kondisi lahan relatif datar hingga bergelombang.
Dalam skema pengelolaannya, pemerintah daerah hanya menyediakan lahan, sementara operasional akan dilakukan oleh pihak pusat melalui kerja sama. Dari skema tersebut, daerah juga berpotensi mendapatkan kontribusi sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Dari pada lahan menganggur, ini bisa memberikan nilai tambah bagi daerah,” kata Rifani.
Lebih jauh, ia menyebutkan dampak pembangunan ini cukup besar bagi Kukar. Selain mengurangi ketergantungan pasokan bibit ayam dari luar daerah, fasilitas ini juga membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal.
“Kita tidak perlu lagi mengambil bibit dari luar seperti dari Banjar. Semua kebutuhan bibit bisa dipenuhi dari sini. Tenaga kerja lokal juga akan kita prioritaskan,” ujarnya.
Kelompok peternak yang sudah terdata nantinya akan diarahkan untuk mengambil bibit dari fasilitas tersebut, sehingga distribusi menjadi lebih efisien dan terintegrasi.
Ke depan, Distanak Kukar juga menargetkan pengelolaan data peternakan berbasis sistem “one data, one map”, agar seluruh aktivitas peternakan dapat dipantau dalam satu peta terpadu.
Saat ini, proyek masih berada pada tahap awal. Pemerintah pusat akan melakukan survei lanjutan dan menyusun perencanaan teknis sebelum pembangunan dimulai.
Terakhir, Rifani menegaskan, kehadiran fasilitas hatchery dan parent stock ini akan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan kemandirian sektor peternakan di Kukar.
“Program ini bukan hanya soal produksi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi masyarakat,” pungkasnya.
(Oby/Mii)

