Suarastra.com – Sosok Lembuswana selama ini dikenal sebagai simbol legendaris sekaligus ikon Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Kini, bentuknya tak hanya hadir sebagai patung atau logo daerah, tetapi mulai didorong menjadi produk cinderamata yang bernilai ekonomi bagi masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Kukar melalui Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) mulai mengarahkan pelatihan keterampilan masyarakat ke sektor manufaktur berbasis ikon lokal tersebut.
Kepala Bidang (Kabid) Kesempatan dan Penempatan Kerja Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kukar, Darma Gumawang, menyebut pelatihan pertukangan menjadi pintu masuk untuk mengembangkan produksi Lembuswana.
“Usaha manufaktur Lembuswana ini kami latih melalui bidang pertukangan. Jadi peserta tidak hanya belajar dasar, tetapi diarahkan sesuai minat, termasuk membuat Lembus,” ujarnya, pada Sabtu (04/04/26).
Menurutnya, Lembuswana memiliki nilai simbolik yang kuat sebagai identitas Kukar, sehingga layak diperkenalkan lebih luas melalui produk ekonomi kreatif.
“Lembus itu lambang daerah kita. Sudah seharusnya kita perkenalkan lebih luas, tidak hanya sebagai simbol, tetapi juga sebagai produk yang bisa dimiliki masyarakat,” jelasnya.
Ia menilai peluang pasar cinderamata Lembuswana cukup besar. Saat ini, harga produk tersebut di pasaran tergolong tinggi, mulai dari Rp350 ribu hingga Rp600 ribu, tergantung ukuran dan bahan.
“Kalau masyarakat bisa memproduksi sendiri, tentu bisa lebih murah dan lebih cepat. Selama ini justru banyak diproduksi di luar daerah,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah. Distransnaker Kukar ingin menarik kembali aktivitas produksi ke dalam daerah agar manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh masyarakat lokal.
“Selama ini banyak pengrajin dari luar, seperti Samarinda. Ini yang ingin kita dorong agar berkembang di Kukar sendiri,” kata Darma.
Tak hanya itu, Darma menegaskan, penguatan ikon daerah melalui produk lokal juga menjadi bagian dari strategi membangun identitas ekonomi, sebagaimana daerah lain yang berhasil mengangkat simbol khasnya.
“Kalau daerah lain bisa punya ikon kuat, kenapa kita tidak memperkuat Lembuswana sebagai identitas sekaligus peluang usaha,” ujarnya.
Terakhir, dirinya bilang, pihaknya tak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga menyiapkan dukungan sarana produksi bagi masyarakat.
“Kami tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga alat. Ibaratnya bukan hanya memberi pancing, tapi juga umpan,” tutupnya.
(Oby/Mii)

