Suarastra.com – Di balik hamparan kebun sawit yang membentang di Desa Muai, Kecamatan Kembang Janggut, Kutai Kartanegara (Kukar), sekelompok pemuda merangkai harapan dari sesuatu yang kerap dipandang sebagai sisa. Bungkil kelapa sawit limbah yang selama ini terpinggirkan mereka olah menjadi genteng dan bata ringan, produk bangunan yang menjanjikan nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Gagasan itu tumbuh dari kegelisahan akan lingkungan dan keterbatasan akses bahan bangunan. Dengan pendekatan ramah lingkungan, bungkil sawit dikeringkan lalu diproses melalui pembakaran dengan komposisi campuran semen sekitar 60:40. Hasilnya bukan sekadar material, melainkan bukti bahwa inovasi bisa lahir dari desa.
Upaya ini juga menjawab kebutuhan lokal. Bata ringan dan genteng hasil olahan tersebut diproyeksikan untuk pembangunan skala kecil hingga menengah, terutama di wilayah yang aksesnya masih bergantung pada jalur sungai dengan jalanan yang medannya sulit ditembus menuju keterhubungan antarpermukiman. Di titik ini, kreativitas pemuda berkelindan dengan kebutuhan riil masyarakat.
Namun, langkah mereka tersendat di ambang akhir. Produk yang telah siap diuji belum dapat melangkah ke tahap pemanfaatan luas karena terkendala uji kelayakan teknis. Tanpa sertifikasi dan pengujian resmi, inovasi itu belum bisa diproduksi massal, apalagi dipasarkan.
Keterbatasan akses ke lembaga penguji dan dukungan pendanaan menjadi tembok yang sulit ditembus. Di sinilah jarak antara gagasan dan kebijakan terasa nyata. Pemuda desa memiliki ide dan kerja, tetapi membutuhkan jembatan agar inovasi dapat berjumpa dengan standar.
Menanggapi hal tersebut, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kukar Dapil VI, Sri Muryani, menyatakan dukungannya terhadap inisiatif pemuda Desa Muai. Ia menilai inovasi berbasis limbah sawit sebagai contoh teknologi tepat guna yang patut didorong.
“Inovasi seperti ini tidak boleh berhenti di meja percobaan. Pemerintah Daerah perlu hadir, terutama dalam memfasilitasi uji kelayakan dan pendampingan, agar karya pemuda desa bisa benar-benar dimanfaatkan masyarakat,” ujar Sri Muryani, saat diwawancarai pada Jumat (27/02/26).
Menurutnya, dukungan tersebut dapat ditempuh melalui skema riset terapan, teknologi tepat guna, maupun kolaborasi lintas perangkat daerah. Dengan begitu, produk ramah lingkungan dari desa tidak hanya menjadi cerita, tetapi bagian dari solusi pembangunan berkelanjutan.
Bagi pemuda Desa Muai, harapan itu sederhana. Mereka ingin karyanya dilirik, diuji, dan diberi ruang untuk tumbuh. Sebab dari bungkil sawit yang dulu tersisa, mereka telah membuktikan satu hal yakni masa depan bisa dibangun dari desa, asalkan negara mau menyentuhnya.
“Kami berharap ada perhatian dan fasilitasi agar uji kelayakan bisa dilakukan, sehingga inovasi ini tidak berhenti di tengah jalan,” tandas Sri Muryani tegas.
(Mii)

